Menurut Direktur Risk Management Bank Mandiri Sentot A Sentausa, perbankan Asia memiliki posisi yang lebih baik karena potensi dan kapasitas pasar domestik yang begitu besar.
Terutama lagi di sektor-sektor yang menunjang program pembangunan nasional seperti infrastruktur, energi dan pangan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurutnya, kontribusi sektor energi dan sumber daya mineral bagi penerimaan negara sangat besar dan menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2008. Sektor energi menyumbang Rp 346 triliun pada penerimaan negara tahun 2008, atau kurang lebih 36 persen dari total penerimaan negara dan diharapkan tumbuh 11 persen per tahun.
Sementara sektor pangan dan infrastruktur yang bersifat non komersil, menurut Sentot juga perlu mendapatkan dukungan antara lain, antara lain infrastruktur pengairan untuk keperluan irigasi, dan jalan non tol.
Pasalnya, sektor-sektor non komersil tersebut merupakan tulang punggung dan motor utama penggerak pembangunan.
Ia menambahkan, walaupun perbankan terus memberikan dukungan penuh terhadap ketiga sektor tersebut, namun perbankan sebenarnya bisa lebih berperan bila berbagai hambatan teknis yang masih ada sudah dicarikan terapinya.
Untuk mendukung pembangunan dan pertumbuhan Asia ke depan, perbankan perlu memformulasikan kesimbangan risiko dan imbal hasil (risk and reward) yang baru. Parameternya harus disesuaikan dengan kondisi dan karakter pembangunan di setiap negara untuk ketiga sektor tersebut.
"Karena walaupun potensi domestik sangat besar masing-masing memiliki tantangan yang cukup rumit dan unik bagi industri perbankan untuk berpartisipasi," pungkas Sentot.
(ang/qom)











































