Deflasi yang terjadi pada bulan April dan penurunan daya beli masyarakat yang menyebabkan terjadinya penurunan demand barang dan jasa menjadi indikator utama peluang turunnya BI Rate pada bulan Mei 2009 ini.
Chief Economist PT Bank Nasional Indonesia (BNI) Tony Prasetiantono mengatakan, deflasi dalam situasi krisis ekonomi seperti sekarang merupakan suatu fenomena yang tipikal.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia menjelaskan, para pengusaha juga merespon penurunan konsumsi masyarakat dengan menurunkan harga-harga barang dan jasa. "Mereka lebih baik menurunkan marjin keuntungan daripada bisnisnya macet," katanya.
Dengan adanya penurunan belanja masyarakat, Tony mengatakan biasanya juga akan diikuti dengan kenaikan tabungan. "Di negara lain seperti Amerika Serikat, kini juga terjadi hal tersebut, yakni bergesernya konsumsi ke tabungan," katanya.
"Deflasi April sebesar 0,13 persen akan membuka peluang BI Rate untuk turun menjadi 7,25 persen dan kedepannya saya duga BI Rate masih punya ruang untuk turun hingga 7 persen," tambahnya.
Namun Tony berpendapat, turunnya BI Rate harus membuat BI ekstra hati-hati. "Jangan sampai penurunan BI Rate berakibat capital flow yang dapat menurunkan nilai tukar atau melemahkan kurs rupiah," tegasnya.
Senada dengan Tony, Kepala Ekonom PT Bank Mandiri (Mandiri), Mirza Adityswara juga mengatakan BI Rate masih mempunyai peluang untuk turun karena faktor deflasi dan tren suku bunga global yang masih turun. "Selain itu ekonomi yang masih melemah akan menyebabkan suku bunga acuan BI bisa diturunkan sedikit lagi," ujar Mirza.
Sementara itu, dalam siaran persnya, Jumat (1/5/2009), Citi Group juga memproyeksikan BI Rate akan turun sebesar 25 basis poin menjadi 7,25 persen pada Mei ini. Hal tersebut dikarenakan pada bulan April ini terjadi deflasi sebesar 0,31 persen. Selain itu Citi Group juga merevisi BI Rate sebesar 25 basis poin dari 7 persen menjadi 6,75 persen pada pertengahan tahun.
(dru/lih)











































