Hal ini dikatakan oleh Direktur Utama Bank Mandiri Agus Martowardojo ketika ditemui para acara Pertemuan Tahunan Ke-42 ADB di Hotel Westin, Nusa Dua, Bali, Minggu (3/5/2009).
"Kita dengan ADB ada rencana merealisasi pinjaman sejumlah U$ 250 juta dimana ADB akan berpartisipasi sebesar US$ 75 juta, tapi akan ada kerjasama dalam bentuk trade finance," jelasnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Oleh karena itu, ADB akan kerjasama dengan bank-bank di Asia untuk memberikan bantuan sehingga melancarkan proses ekspor impor. Saya rasa akan direalisasikan pada kuartal II-2009," jelasnya.
Sementara untuk kerjasama trade financing dengan ADB, Agus menjelaskan tujuan kerjasama itu adalah untuk membuat kegiatan perdagangan antar negara semakin lebih baik dan menghilangkan hambatan," tuturnya.
"Kita langsung membiayai perusahaan di bawah kita atau bantu bank-bank lokal supaya fasilitasnya diterima oleh bank-bank di luar negeri, size kerjasamanya cukup besar bisa sampai US$ 500 juta atau Rp 5 triliun," paparnya.
Sementara dengan adanya pertemuan ADB di Bali ini, Agus mengatakan untuk membantu mendorong perekonomian saat krisis terjadi, perbaikan fungsi intermediasi perbankan perlu dilakukan.
"Dan juga perlunya koordinasi, tidak hanya aspek moneter tapi khususnya kegiatan fiskal," tukas Agus.
Kerja Sama
Bank Mandiri menjajaki kerjasama dengan Asian Development Bank (ADB) dan International Finance Cooperation (IFC) untuk memberikan kemudahan pembiayaan ekspor (Letter of Credit) bagi perusahaan-perusahaan Indonesia yang
melakukan ekspor, terutama ke negara-negara di Asia yang memiliki risiko kredit tinggi.
Dengan kerjasama tersebut, ADB akan menjamin resiko pemberian pembiayaan ekspor yang ditanggung oleh Bank Mandiri.
Menurut Direktur Treasury dan International Banking Mandiri Thomas Arifin penjajakan kerjasama itu sendiri sudah dilakukan sejak bulan lalu.
"Kesepakatan dengan IFC telah ditandatangani pada bulan lalu, sedangkan dengan ADB kami sedang melakukan finalisasi kesepakatan," katanya di pertemuan tahunan ADB ke-42 di Nusa Dua, Bali, Minggu (3/5/2009)
Ia mengatakan permintaan dari berbagai negara yang beresiko tinggi tersebut cukup besar, namun selama ini belum ada eksportir yang berani menerbitkan Letter of Credit (LC) saat akan melakukan ekspor ke negara-negara tersebut
Ia menambahkan, bank plat merah itu juga akan mendapatkan keleluasaan dalam pemberian pembiayaan ekspor. Pasalnya dalam BASEL II, pemberian pembiayaan yang resikonya ditanggung oleh IFC dan ADB, dikategorikan sebagai kredit yang memiliki risiko nol (zero risk).
Hal tersebut akan mendorong terjadinya dua poin positif bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia di tengah tertekannya kinerja ekspor Indonesia. Dengan situasi pasar ekspor tertekan seperti saat ini, maka perusahaan-perusahaan Indonesia akan memiliki peluang untuk mengalihkan ekspornya ke pasar-pasar baru yang belum tergarap maksimal.
Selain itu di masa mendatang Indonesia akan memiliki posisi tawar yang lebih baik dan tidak tergantung pada ekspor ke negara-negara maju seperti selama ini terjadi.
Menurutnya, dengan kategori risiko nol, maka proses restrukturisasi utang yang dimiliki oleh eksportir akan lebih mudah dilakukan. Selama ini banyk perbankan yng enggan memberikan pembiayaan tambahan karena ada risiko-risiko baru yang harus ditanggung, dan eksportir belum melunasi kewajibannya yang lama. Kalaupun ada, umumnya bank mensyaratkan penambahan alokasi modal.
Dengan jaminan penuh dari IFC dan ADB, maka alokasi modal untuk jaminan penerbitan LC bisa dikurangi. Selain itu, eksportir akan mampu meraih pendapatan dari pasar yang baru, yang bisa digunakan untuk mempertahankan kelangsungan usaha, sekaligus melunasi kewajibannya kepada Bank Mandiri.
(dnl/ang)











































