"Apabila di bulan-bulan berikutnya ekspektasi inflasi tetap rendah, maka besar peluang BI rate akan steady di level 7 persen di akhir tahun ini," ujar Kepala Ekonom BNI, Ryan Kiryanto melalui pesan singkatnya, Selasa (5/5/2009).
Ia mengatakan, dengan melihat perkembangan makro yang baik seperti lonjakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan kurs Rupiah serta ditambah dengan kenaikan cadangan devisa menjadi US$ 56,67 Miliar, penurunan BI Rate sudah sesuai dengan harapan pasar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ryan menjelaskan, hal ini menyebabkan inflasi April mengalami deflasi sehingga laju inflasi sangat terkendali di kisaran 7 persen.
"Penurunan BI rate memberikan sentimen positif ke pasar saham dan pasar uang karena diproyeksikan bakal berlanjut pada penurunan suku bunga perbankan sebagaimana harapan dunia usaha," ujarnya.
Paling tidak, lanjut Ryan, bank-bank akan lebih terdorong untuk menyesuaikan suku bunga kredit yang akan membantu sektor riil.
BI pada hari ini memutuskan penurunan BI Rate menjadi 7,25% setelah melakukan pertimbangan menyeluruh terhadap perkembangan ekonomi di dalam dan luar negeri. BI Rate 7,25% tersebut berarti terendah dalam 4 tahun sejak Juli 2005. BI Rate tertinggi dalam 4 tahun terakhir terjadi pada periode 6 Desember 2005 hingga 5 April 2006 saat BI Rate mencapai 12,75%. (dru/qom)











































