Menurut Tinjauan Kebijakan Moneter yang dikutip detikFinance dari situs BI, Selasa (5/5/2009), berbagai indikator mendukung kondisi tersebut, antara lain modal perbankan secara nasional dan rasio kecukupan modal menunjukkan tren yang meningkat.
Per Maret 2009,Β total aset mengalami peningkatan menjadi Rp 2.352,1 triliun atau tumbuh sebesar 21% (yoy).Β SementaraΒ rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio - CAR) turun tipis menjadi 17,4% dibandingkan pada CAR Februari 2009 yang sebesar 17,7%.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Posisi Dana Pihak Ketiga (DPK) perbankan nasional juga tercatat naik tipis menjadi Rp 1.786,2 triliun pada Maret 2009, dibandingkan posisi per Februari 2009 yang sebesar Rp 1.767,1 triliun.
"Posisi kredit masih mengalami peningkatan mencapai Rp1.342,1 triliun, meskipun secara tahunan sedikit melambat dibandingkan dengan bulan sebelumnya," demikian laporan tersebut.
Pada Maret 2009, pertumbuhan kredit secara agregat (termasuk channeling) tumbuh sebesar 24,3% (yoy) melambat dibandingkan dengan bulan Februari yang tumbuh sebesar 27,6% (yoy). Sejak Januari hingga April 2009, kredit diprakirakan masih mencatat pertumbuhan yang negatif.
Laporan tersebut menjelaskan, penurunan pertumbuhan kredit tersebut diindikasi terkait lambatnya respons perbankan terhadap penurunan BI Rate bersamaan dengan permintaan kredit masyarakat yang menurun sebagai cerminan dari aktivitas perekonomian domestik yang belum bergairah.
Berdasarkan penggunaannya, perlambatan pertumbuhan kredit terjadi pada seluruh penggunaan kredit baik untuk modal kerja, investasi maupun konsumsi. Pertumbuhan tahunan kredit modal kerja, kredit investasi dan kredit konsumsi masing-masing tercatat sebesar 23,5%, 35,3% dan 24,4% atau melambat dari bulan sebelumnya sebesar 27,4%, 38,4% dan 26,9%. (qom/lih)











































