Citigroup, Morgan Stanley dan Wells Fargo sudah mengumumkan rencana untuk meningkatkan modalnya melalui penawaran saham ke publik. Sementara Bank of America yang menurut hasil stress test membutuhkan modal terbesar juga sudah mengumumkan akan mencari modal tambahan dari menjual aset dan langkah-langkah lainnya.
"Kami bermaksud untuk menjual saham biasa dan atau mengkonversi saham preferen yang sudah dimiliki secara privat menjadi saham biasa untuk memenuhi kebutuhan modal inti," ujar Bank of America dalam pernyataannya seperti dikutip dari AFP, Jumat (8/5/2009).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
- Bank of America: US$ 33,9 miliar
- Wells Fargo: US$ 13,7 miliar
- GMAC, eks unit finansial General Motors: US$ 11,5 miliar
- Citigroup: US$ 5,5 miliar
- Regions Financial: US 2,5 miliar
- SunTrust: US$ 2,2 miliar
- KeyCorp: US$ 1,8 miliar
- Morgan Stanley: US$ 1,8 miliar
- Fifth Third: US$ 1,1 miliar
- PNC: US$ 600 juta.
Institusi finansial yang dianggap tidak memerlukan modal adalah: American Express, BB&T, Bank of New York Mellon, Capital One, Goldman Sachs, JPMorgan Chase, MetLife, State Street and US Bancorp.
Stress test dilakukan oleh Bank Sentral AS atas 'pesanan' dari pemerintah AS dengan tujuan untuk memastikan bank-bank besar tersebut dapat menghadapi kondisi jika krisis finansial terkini memuncak.
Morgan Stanley menyatakan akan menawarkan saham ke publik sebesar US$ 2 miliar dan menerbitkan obligasi US$ 3 miliar. Wells Fargo juga akan meningkatkan modal dengan menawarkan saham ke publik senilai US$ 6 miliar. Citigroup juga akan menawarkan saham ke publik senilai US$ 5,5 miliar.
Regulator menyatakan bahwa bank-bank itu lebih baik menerbitkan saham biasa ketimbang saham preferen karena berarti ada dividen yang harus di bayar.
Jika bank-bank besar tersebut jadi menerbitkan saham, maka pasar global pun akan semakin semarak. Namun penerbitan saham-saham itu diyakini tidak akan menimbulkan perebutan dana atau bahkan menghambat aliran modal ke negara-negara emerging markets termasuk Indonesia.
"Dana standby disana besar sekali. Saya yakin masih banyak dana yang mengalir lagi. Jadi kalau sekedar perlu dana US$ 75 miliar sangat lah kecil dibandingkan dengan yang sudah keluar/diberikan," jelas praktisi pasar modal, Siswa Rizali saat dihubungi detikFinance.
Ie menjelaskan, dana-dana investasi yang selama ini dikelola oleh fund manager AS sebenarnya sudah mulai keluar dari 'sarang'. Dana-dana itu menuju ke berbagai tempat investasi, termasuk di Indonesia. Investor sudah mulai percaya diri mengingat seluruh kabar buruk sudah keluar.
"Sekarang setelah semua orang melihat suasana, orang mulai berani. Uang sudah keluar dan masuk ke bursa-bursa, makanya kita pemulihannya luar biasa," ujarnya.
Sementara Ekonom dari UGM Tony Prasentiantono mengatakan, bank-bank Indonesia dipastikan tidak akan mengalami hal serupa dengan bank-bank di AS tersebut.
"Saya yakin situasi kita berbeda. Bank-bank di AS kan banyak main derivatif, sehingga rugi besar, karena itu perlu suntikan modal baru. Kita tidak begitu. Perbankan kita sangat minim bersentuhan derivatif," ujarnya kepada detikFinance.
Memang ada potensi NPL dan perlu injeksi modal agar CAR tidak melorot. Namun menurut Tony, kondisi perbankan Indonesia tidak separah AS, juga tidak separah kondisi 1998.
"Bank-bank kecil memerlukan likuiditas. Jika LPS dapat menaikkan lagi penjaminan, misalnya Rp 5 miliar per account, saya kira dapat membantu," pungkasnya. (qom/ir)











































