Darmin Tekankan Inflasi dan Pengawasan BI

Fit and Proper Test DGS BI

Darmin Tekankan Inflasi dan Pengawasan BI

- detikFinance
Senin, 11 Mei 2009 12:01 WIB
Darmin Tekankan Inflasi dan Pengawasan BI
Jakarta - Calon Deputi Gubernur Senior BI yang juga menjabat Dirjen Pajak Darmin Nasution
mengakui sulitnya menekan tingkat inflasi di Indonesia, masalah struktural
ekonomi menjadi faktor utama yang menjadi kendala. Namun ia tetap optimistis inflasi Indonesia bisa menyentuh 5%.

Hal ini ia ungkapkan dalam fit and proper test calon Gubernur Senior BI dengan Komisi XI DPR di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Senin (11/5/2009).

"Inflasi Indonesia selalu tinggi dibanding negara lain. Target saya adalah ingin
menekan inflasi ke level 5%. Inflasi menjadi indikator penting karena berpengaruh kepada pertumbuhan ekonomi, keseimbangan eksternal, daya saing produk, tingkat suku bunga, dan distribusi pendapatan," tuturnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dikatakan Darmin upaya menekan inflasi di Indonesia tidak mudah karena faktor
struktural ekonomi yang ada yaitu seperti belum tersedianya sarana infrastruktur
yang belum memadai.

"Masalah infrastruktur memang jadi kewenangan pemerintah, jadi perlu ada
koordinasi erat antara BI dan pemerintah," imbuh pria yang menjadi dosen ekonomi
sejak 1976 sampai dengan saat ini.

Selain itu, mengenai kondisi sektor perbankan di Indonesia saat ini, Darmin
mengatakan sektor perbankan Indonesia jauh lebih baik kondisinya sejak krisis
1997/1998, bahkan lebih baik dibandingkan kondisi perbankan di negara-negara
tetangga.

"Besaran kredit bermasalah (NPL/Non Performing Loan) perbankan sudah turun dari
32,9% pada 1997/1998, sekarang tinggal 3,9% atau 4%. Kecukupan modal juga lebih
baik atau setidaknya setara dengan negara lain," tuturnya.

Menurutnya harus ada juga perbaikan pada lembaga keuangan di luar bank sehingga
sektor keuangan bisa berjalan dengan baik, tanpa ada masalah seperti yang
terjadi belakangan ini.

"Fungsi sektor keuangan menjadi penting bagi perekonomian, harus kita jaga dan
kita harus belajar dari pengalaman krisis yang lalu. Biaya mengatasi krisis
sangat mahal, sehingga jangan sampai terjadi lagi," katanya.

Dalam fit and proper test ini, Darmin menyinggung lemahnya penegakan peraturan
perbankan oleh BI yang ditunjukkan dari kolapsnya Bank IFI dan Bank Century.

"Masalah yang dihadapi oleh Bank IFI dan Bank Century adalah masalah lama, jadi
ada enforcement yang kurang di BI. Karena itu perlu ada yang dibenahi dalam
governance BI," pungkasnya. (dnl/lih)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads