Pembelian toxic asset oleh BI dikhawatirkan akan menghambat pengelolaan moneter yakni meningkatkan inflasi.
Demikian dikatakan Koordinator Sekretariat Komite Stabilitas Sektor Keuangan (KSSK), Raden Pardede dalam Sosialisasi Jaring Pengaman Sistem Keuangan (JPSK) di Hotel Putri Duyung, Jakarta, Sabtu (22/5/2009) malam.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Raden menjelaskan, hal tersebut akan membuat BI mencetak uang, maka kemungkinan
inflasi akan meningkat kedepannya dan pada akhirnya tujuan stabilitas tidak
tercapai.
"BI memiliki balance sheet yang berisi aset serta liabilitas, pembukuan ini harus
seimbang dalam rangka pengelolaan moneter. Adapun pengelolaan moneter dengan
menjaga kestabilan nilai tukar rupiah (exchange rate), suku bunga serta inflasi,"
papar Raden.
Ia mengatakan, di Amerika Serikat saat ini pertumbuhan uang beredar sangat tinggi akibat keputusan pemerintah membeli toxic asset. Sejauh ini pemerintah AS terys mencetak uang dan kini tambahan uang mencapai 1,5 triliun dollar AS dari posisi sebelum krisis yang hanya mencapai 500 miliar dollar AS.
"Keputusan tersebut menurut Pardede menjadi blunder bagi pemerintah AS kedepan jika kondisi perekonomian kembali pulih dengan membaiknya daya beli maka diperkirakan akan terjadi ledakan inflasi. Saat ini pemerintah AS tengah memikirkan untuk menyerap dana," tuturnya.
(dru/qom)











































