Hal ini disampaikan oleh Ketua Komite Tetap Perdagangan Dalam Negeri Kadin Indonesia Bambang Soesatyo kepada detikFinance, Senin (25/5/2009).
"Saya menduga pembengkakan proyeksi itu lebih sebagai janji kosong untuk melengkapi pencitraan pasangan capres tertentu menjelang Pilpres 2009. Proyeksi baru pertumbuhan kredit itu tiba-tiba mengubah BI dan perbankan yang sebelumnya konservatif dan ego sektoral menjadi sangat agresif. Lebih tidak masuk akal lagi karena BI dan perbankan belum mengisyaratkan penurunan suku bunga, hal yang sangat diharapkan dunia usaha," tuturnya.
Menurut Bambang, perbankan saat ini berada di jalan buntu karena tidak mampu menurunkan suku bunga. Ketimpangan likuiditas di antara sesama bank juga menyebabkan Pasar Uang Antar Bank (PUAB) tidak bisa diandalkan bank papan tengah dan kecil mengatasi masalah likuiditas mereka.
"Beban pembayaran bunga atas tumpukan Dana Pihak Ketiga juga tak mungkin mendorong bank berani mengambil risiko penyaluran kredit sektor riil. Tetap Lebih aman ditempatkan di SUN (Surat Utang Negara). Pooling fund sebagai alternatif atau solusi pun belum jelas realisasinya," katanya.
Selain itu, lanjutnya, tendensi bisnis pun belum membaik, sehingga permintaan kredit tidak akan terlalu besar sepanjang 2009. Dunia usaha belum bergairah melihat daya beli konsumen yang masih lemah.
"Karena itu, keinginan yang tiba-tiba untuk memacu penyaluran kredit menjelang PIlpres bukan hanya tidak realistis. Keinginan itu dilihat sebagai janji-janji kosong dalam kampanye politik," pungkas Bambang.
(dnl/ir)











































