Hal ini dikatakan oleh Deputi Gubernur Senior BI Miranda S. Goeltom dalam rapat kerja dengan Komisi XI DPR, di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Kamis (28/5/2009).
"Februari-Maret 2009 kredit naik kembali karena ekonomi membaik meskipun tidak banyak. Tapi paling tidak dibanding negara-negara tetangga kita masih tumbuh positif. Negara lain mengalami penurunan kredit yang tajam," tuturnya.
Miranda mengatakan, sejak Desember 2008 sampai saat ini BI telah menurunkan BI Rate sebesar 225 bps. "Penurunan ini dipandang telah direspon oleh perbankan meski dalam tingkat yang terbatas," ujarnya.
Dijelaskan Miranda, sejak Desember 2008 sampai April 2009, suku bunga simpanan perbankan telah turun 171 bps atau 1,71%.
"Penurunan ini didominasi penurunan suku bunga deposito oleh bank asing atau bank campuran," katanya.
Namun untuk suku bunga kredit, penurunan BI Rate belum direspons optimal oleh perbankan lewat penurunan suku bunganya.
"Dari Desember 2008 sampai April 2009 baru turun 38 bps, sekarang rata-rata suku bunga kredit investasi 14%, kredit modal kerja 14,8%, dan kredit konsumsi 14,5%," paparnya.
Miranda menuturkan, sulitnya penurunan suku bunga deposito ini adalah karena para nasabah prima atau prioritas bank yang mempunyai dana besar meminta suku bunga tinggi dari bank.
(dnl/qom)










































