Demikian disampaikan Direktur Utama Biro Riset Info Bank Eko B Supriyanto dalam konferensi pers di Hotel Sahid Jaya, Jakarta, Kamis (28/5/2009).
"Jangan harap bank akan menurunkan suku bunganya drastis, ujarnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain itu, menurut Eko, net interest margin (NIM) perbankan di Indonesia masih tinggi yaitu sekitar 6 -9 persen. Menurut dia, dengan NIM yang besar tersebut, perbankan masih menghasilkan laba yang belum maksimal.
"Misalnya Bank BRI dengan NIM sebesar 9 persen, dengan aset Rp 246,076 triliun, tapi hanya mendapatkan pendapatan hanya sekitar Rp 6 trliun," tuturnya.
Selain itu, perbankan yang telah dimiliki investor asing diperkirakan akan memacu agar laba perbankan tersebut segera mencapai titik impas (break event point).
"Salah satunya Temasek, mereka ingin secepatnya BEP, jadi mereka memacu bank Danamon agar cepat untung, karena bank tidak bisa hidup dengan bunga rendah ya mereka tetap mematok bunga bank tinggi," katanya.
Eko juga menambahkan, direksi perbankan juga menginginkan kinerja perbankan yang tampak baik dengan mendorong pencapaian laba yang tiggi, untuk memberikan kesan yang baik dalam rapat umum pemegang saham.
"Jadi jangan harap bunga akan rendah, karena bank tidak bisa hidup dari suku bunga rendah, karena memang tidak efisien dan mau laba besar," katanya.
Pengamat ekonomi Iman Sugema menambahkan, bank saat ini dibayangi penurunan laba. "Persoalannya bunga depositonya juga masih tinggi," katanya.
Hal ini terutama karena dipicu bank-bank ingin mempertahankan likuiditas dengan meningkatkan suku bunga deposito. Hal ini memicu semuanya juga turut menaikan suku bunga deposito agar nasabahnya tidak berpindah tempat.
"Untuk itu perlu dicarikan cara yang baik agar bank-bank segera dapat mengucurkan kredit dengan bunga yang harusnya dirurunkan untuk mendukung ekonomi," katanya.
Sementara untuk kredit, di kuartal I menurun dibandingkan akhir Desember 2008. Pada kuartal I outstanding kredit tercatat Rp1.305 triliun, menurun 0,15 persen dibandingkan posisi Desember 2008 yang mencapai Rp1.307 triliun.
"Penurunan signifikan terjadi untuk jenis modal kerja," katanya.
Pada Desember 2008, posisi kredit modal kerja mencapai Rp 684,672 triliun. Pada akhir Maret 2009, kredit modal kerja turun menjadi Rp 671,611. Ia juga menyatakan, laba bank pada 2008 tetap tumbuh baik meski.Pada akhir Desember 2008, perolehan laba perbankan tetap tumbuh lebih besar namun pertumbuhannya turun.
Pada 2008 laba perbankan tercatat naik 13,06 persen menjadi Rp37,24 triliun dibandingkan 2007 yang mencapai Rp32,94 triliun. Pertumbuhan itu turun dibandingkan pertumbuhan laba 2007 dibandingkan 2006 yang mencapai 14,30 persen.
"Dari catatan kita, bank tetap mengantongi laba besar, ini yang membedakan dengan catatan BI yang memperkirakan penurunan laba hingga 12 persen," katanya.
(dru/lih)











































