Upaya manajemen untuk menyehatkan kembali Century sedikit demi sedikit mulai berbuah. Dalam waktu kurang lebih setengah tahun Century kini sudah mulai kembali mendapat kepercayaan nasabahnya yang dulu sempat keluar saat bank tersebut jatuh.
Pelan namun pasti, Bank Century membangun kembali fondasi bisnisnya. Kesulitan modal dan likuiduitas bukan lagi jadi masalah utama setelah disuntik LPS hingga Rp 4,9 triliun.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Fajar menceritakan bagaimana susahnya memperbaiki kerusakan-kerusakan di Bank Century yang dilakukan oleh bekas pemegang saham lamanya.
Manajemen Bank Century yang dipimpin direktur utama Maryono menemukan banyak kerusakan di sisi aset seperti surat berharga yang ternyata kebanyakan cuma paper dan tidak ada nilainya. Banyaknya letter of credit (L/C) yang bodong serta pemberian kredit yang tidak benar alias ditujukan ke rekan-rekan sendiri dari pemegang saham lamanya.
Dengan transformasi tiga tahap yang dilakukan menurut Fajar kini Bank Century terus melangkah menuju perbaikan. Transformasi yang dilakukan Bank Century itu terdiri dari 3 fase yakni:
- Fase I dimulai dari Desember 2008 sampai Februari yang disebut sebagai fase survival.
- Fase II dimulai Maret-November 2009 yang disebut fase built the foundation.
- Fase III dimulai Desember 2009-November 2011 yang disebut fase focusting the business.
Lalu apa hasilnya setelah enam bulan Bank Century diambilalih pemerintah?
Fajar menjelaskan yang paling utama dilakukan manajemen setelah bank tersebut diambilalih LPS adalah menjelasakan ke nasabah bahwa dana mereka aman karena dijamin LPS. Bank Century tetap fokus menggarap etnis Tionghoa sebagai basis utama nasabahnya.
"Hasilnya dana pihak ketiga pada Februari bisa kembali masuk Rp 100 miliar dan Maret Rp 200 miliar. Kita targetkan sampai akhir tahun bisa mencapai Rp 1,2 triliun DPK yang masuk," kata Fajar.
Century juga mulai menyalurkan kredit yang kini baru mencapai Rp 100 miliar. Kredit ini kebanyakan disalurkan ke ritel dan mutifinance.
Bisnis unggulan di bank notes juga mulai jalan yang transaksi per hari bisa mencapai US$ 2-4 juta dengan memperdagangkan 21 mata uang.
"Klien kami kebanyakan money changer seperti di Bali," ujar Fajar.
Aset-aset yang bodong juga sudah diverifikasi ulang yang hasilnya ada penurunan aset yang signifikan. Dari laporan semula oleh pemegang saham lama sebesar Rp 14 triliun ternyata setelah diaudit cuma ada Rp 7 triliun.
Lalu bagaimana soal tuntutan nasabah Bank Century yang menjadi korban produk PT Antaboga Delta Sekuritas Indonesia?
Fajar mengatakan nasabah tetap didampingi tim asistensi Bank Century untuk mengetahui perkembangan soal dananya yang digelapkan oleh Robert Tantular Cs.
"Dengan adanya tim asistensi ini justru Bank Century peduli terhadap korban Antaboga. Kita selalu minta nasabah untuk kooperatif karena kasusnya ditangani Mabes Polri. Di tim asistensi ini kita akan melaporkan perkembangan penyidikan itu," jelas Fajar.
Dia menceritakan penjualan produk Antaboga dilakukan langsung oleh Robert Tantular yang meminta kepala cabang untuk mencari nasabah. "Kepala cabang diperintahkan seperti itu ya menurut saja karena yang menyuruh langsung pemiliknya," ujar Fajar.
Namun kenyataannya, kata Fajar, dana Antaboga itu tidak pernah masuk ke Bank Century hanya lewat saja yang kemudian diambil pemegang sahamnya karena takut ketahuan BI. Karena memang bank tidak boleh menjual produk di luar bank.
"Itu nggak ada di neraca, jadi tidak mungkin LPS membayarnya," katanya.
Dia berharap nasabah Antaboga melaporkan bilyet-bilyet yang dimiliknya ke Mabes Polri. Karena nantinya aset yang disita milik Robert Tantular itu salah satunya akan dibayarkan ke korban-korban Robert Tantular.
(ir/qom)











































