Hal ini dikatakan oleh Ketua Komite Tetap Perdagangan Dalam Negeri Kadin Indonesia Bambang Soesatyo kepada detikFinance, Kamis (4/6/2009).
"Penurunan (BI Rate) kali ini cukup signifikan. Tetapi bagi dunia usaha, relatif bukan berita besar, karena rangkaian penurunan BI Rate sebelumnya gagal bertransmisi ke penurunan bunga bank," tuturnya.
Dikatakannya, saat ini tak banyak yang bisa diperbuat dunia usaha kecuali mendesak dan menunggu BI serta perbankan merealisasikan penurunan suku bunga pinjaman. "Bunga kredit saat ini masih di kisaran 14%, terlalu mencekik bagi pengusaha," imbuhnya.
Kalau concern pada pemulihan sektor riil, imbuh Bambang, penguatan daya beli dan penurunan harga barang, suku bunga saat ini mestinya sudah di bawah 11%.
"Maka penurunan BI Rate kali ini harus melahirkan konsekuensi logisnya, yakni penurunan suku bunga pinjaman dan suku bunga deposito. Tanpa konsekuensi itu, penurunan BI Rate tak punya makna," tandasnya.
Bambang mengungkapkan penurunan BI Rate hingga 7% sudah sangat relevan. "Inflasi Mei 2009 terkendali, bahkan nyaris deflasi. Selain faktor inflasi, penurunan BI Rate saat ini menjadi kebutuhan mutlak," tukasnya.
(dnl/ir)
