Demikian data Direktorat Jenderal Pengelolaan Utang Departemen Keuangan yang dikutip detikFinance, Kamis (11/6/2009).
Jumlah SUN yang diperdagangkan per 5 Juni 2009 adalah sebanyak Rp 562,13 triliun. Terbanyak dipegang oleh perbankan sebanyak Rp 273,89 triliun.
Sementara non bank memegang SUN Rp 260,02 triliun, terdiri dari reksa dana Rp 35,91triliun, asuransi Rp 65,52 triliun, dana pensiun Rp 34,85 triliun, perusahaan sekuritas Rp 0,66 triliun, lain-lain Rp 37,04 triliun.
Bank Indonesia sampai 5 Juni 2009 memegang SUN sebanyak Rp 28,23 triliun.
Dirjen Pengelolaan Utang Depkeu Rahmat Waluyanto mengatakan, ada beberapa hal yang menyebabkan asing di SUN kembali meningkat."Investor asing biasanya melihat prospek ekonomi jangka panjang Indonesia yang secara fundamental bagus. Indonesia salah satu dari sedikit negara di dunia yang masih mengalami pertumbuhan positif selain China dan India," tuturnya kepada detikFinance , Kamis (11/6/2009).
Rahmat mengatakan, dengan nilai tukar rupiah yang stabil dan cenderung menguat, SUN rupiah menjadi menarik bagi investor asing. "Yield differential antara US Treasury dengan SBN rupiah juga cukup menarik," imbuhnya.
Menurutnya, surat berharga negara lain terutama di emerging market masih dipersepsikan berisiko tinggi dibandingkan dengan Indonesia."Ekspektasi inflasi turun sehingga suku bunga masih diharapkan turun dan harga SBN masih akan naik, apalagi suplai SBN dari Pemerintah tidak akan banyak lagi. Pemerintah sudah berhasil melakukan front-loading strategy dan pemenuhan target pembiayaan 2009 sudah 70% lebih," paparnya.
(dnl/qom)











































