BI: Indonesia Perlu Belajar dari Kebijakan Krisis Obama

BI: Indonesia Perlu Belajar dari Kebijakan Krisis Obama

- detikFinance
Kamis, 18 Jun 2009 15:12 WIB
BI: Indonesia Perlu Belajar dari Kebijakan Krisis Obama
Jakarta - Kebijakan pemerintahan Obama dalam menangani krisis di AS dinilai cukup sukses. Bank Indonesia pun mulai pikir-pikir untuk belajar dari kebijakan-kebijakan Obama tersebut.

Deputi Gubernur Bank Indonesia Muliaman D Hadad mengatakan respon pemerintah AS atas persoalan krisis keuangan sangat baik, pengalaman krisis di AS setidaknya menjadi guru agar tidak terjadi kesalahan yang sama di Indonesia.

"Kita perlu mempertimbangkan dan mempelajari kebijakan-kebijakan pemerintahan Obama di AS, namun bukan berarti untuk meniru," ujarnya dalam Diskusi Panel Peran Bank Sentral Dalam Stabilitas Sistem Keuangan Dan Jaring Pengaman Sektor Keuangan di Hotel Nikko, Jakarta, Kamis (18/06/09).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ia memaparkan, setidaknya ada empat langkah reformasi di AS terkait kebijakan moneter. "Yang pertama yaitu kewenangaan The Fed (Bank Sentral AS) sebagai sistemik risk regulation atau lembaga yang berfungsi sebagai pengumpul informasi otoritas dan mengatur serta mengawasi lembaga yang sistemik," paparnya.
   
Hal tersebut penting, tegas Muliaman, karena risiko sistemik akibat krisis akan dapat dicegah.
   
Ia mengatakan, selain hal tersebut yang pantas diambil dari kebijakan AS adalah mengenai perlindungan konsumen dan penguatan arus informasi dalam sistem keuangan.
   
"Untuk meminimalkan gap (kesenjangan), supervisi antara otritas satu dengan yang lain, identifikasi risiko antar industri, juga lembaga keuangan satu dengan yang lain. Ini esensi yang juga relevan kondisinya dengan Indoensia," ujarnya.
   
Koordinasi dan komunikasi, lanjut Muliaman, tidak bisa diperdebatkan lagi, apalagi terkait informasi yang menentukan stabilitas informasi lembaga keuangan.
   
Lebih lanjut, Muliaman juga menekankan pentingnya edukasi finansial untuk masyarakat. Sehingga masyarakat memiliki kesadaran akan resiko transaksi dengan lembaga keuangan.
   
"Selama ini tingkat edukasi finansial masyarakat kurang, jadi mereka kurang sadar resiko", tambahnya.

(dru/lih)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads