Chief Marketing Officer Himalaya, Budi Hartono Purnomo mengatakan pendapatan premi dari bisnis PRI sama sekali belum menunjukan perkembangan yang signifikan menjelang pilpres 2009 ini.
"Asuransi Himalaya Pelindung merupakan salah satu pemain dari bisnis Asuransi Risiko Politik atau Political Risks Insurance (PRI), namun sampai dengan saat ini kita belum melihat pertumbuhan premi dari asuransi politik. Sampai dengan saat ini masih dalam keadaan normal-normali saja," jelasnya saat dihubungi detikFinance , Minggu (21/6/2009).
Lebih lanjut Budi mengatakan hal tersebut dikarenakan faktor situasi menjelang pilpres 2009 yang aman dan stabil. "Hal ini yang membuat pertumbuhannya masih lesu," tegasnya.
Sementara itu Presiden Director PT Asuransi Himalaya Pelindung, Kornelius Simanjuntak beberapa hari yang lalu mengatakan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi permintaan premi bisnis tersebut adalah kondisi keamanan dalam negeri dan regional.
"Selain bertambahnya investasi dan menjelang pilpres 2009, salah satu faktor yang mempengaruhi permintaan adalah kondisi keamanan dalam negeri dan regional," ujarnya.
Untuk diketahui, pertumbuhan asuransi risiko politik secara umum dalam 3 tahun terakhir masih rendah, yaitu pada 2008-2009 sebesar 10 persen naik sedikit dibanding tahun sebelumnya minus 7 persen, meski pada 2006-2007 pertumbuhannya sempat meningkat menjadi 18 persen.
Dari sisi gross premi, tahun 2009 diproyeksikan sebesar Rp 55 miliar, naik dibanding 2008 sebesar Rp 47,29 miliar. Sebagai perbandingan pada 2007 sebesar Rp 51,01 miliar dan 2006 Rp 43,88 miliar.
Pemain asuransi risiko politik saat ini hanyaΒ PT Asuransi Himalaya Pelindung, PT Bintang General Insurance, dan Pool TS. Sementara properti yang dicover asuransi adalah paling banyak pusat perbelanjaan (30 persen), hotel (20 persen), kantor (20 persen), apartemen (17 persen), bisnis ritel (10 persen) manufaktur (2 persen) dan rumah (1 persen).
(dru/dro)











































