"Kalau Sri Mulyani dan Darmin dua-duanya pindah ke moneter, lalu Depkeu bagaimana? Padahal tugas mereka belum tuntas di sana untuk mereformasi mental dan kinerja orang-orang di Depkeu," kata anggota Komisi XI DPR Melchias Markus Mekeng ketika dihubungi detikFinance, Kamis (25/6/2009).
Melchias, atau biasa dipanggil Melki, menilai banyak perubahan yang terjadi di Depkeu setelah dipimpin Sri Mulyani. Reformasi serupa juga terjadi di tubuh Ditjen Pajak yang selama ini terkenal dengan kerumitan birokrasi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Siapa yang akan menggantikan, kualitasnya minimum sama," ujarnya.
Dari sisi bank sentral, Melki juga melihat pindahnya dua ikon reformasi Depkeu ke Bank Indonesia menandakan mendesaknya perbaikan di bank sentral.
"Kalau sampai Sri Mulyani dan Darmin yang pindah, berarti kan di BI ada yang sesuatu nggak benar," ujar Melki.
Ia pun mencontohkan banyaknya kasus yang merudung Bank Indonesia seperti kasus Syahril Sabirin dan Burhanuddin Abdullah. Kasus-kasus tersebut menandakan reformasi di tubuh BI memang sangat mendesak.
"BI pasti akan berubah dengan adanya dua orang ini (Darmin dan Sri Mulyani) yang memang pemberani. BI sekarang kena banyak kasus, sehingga imejnya jelek. Kalau (pimpinannya) dari orang dalam, nggak bisa berubah," katanya. (lih/dnl)











































