Demikian dikatakan oleh Deputi Direktorat Hukum Bank Indonesia (BI), Ramlan Ginting dalam Media Workshop dengan tema Memahami Fungsi dan Peran Perdagangan Internasional di Danamon Corporate University, Ciawi, Bogor, Kamis (25/06/09).
"LPEI merupakan suatu ekspor credit agency yang tidak sama dengan bank komersil," ujarnya. Ia mengatakan LPEI murni membiayai ekspor yang pada umumnya membiayai ekspor jangka menengah dan panjang.
"Sedangkan bagi bank-bank umum, rata-rata membiayai ekspor jangka pendek," jelasnya.
Sedangkan bank-bank umum menurut Ramlan berfungsi membiayai ekspor jangka pendek. "Jadi keduanya bukan bersaing namun sama-sama mendorong ekspor di Indonesia," tuturnya.
Walaupun saat ini, jelas Ramlan, bank ekspor impor belum secara penuh melaksanakan tugas sebagai lembaga pembiayaan ekspor seperti negara-negara lain, nantinya bila diganti menjadi LPEI diharapkan akan seperti lembaga pembiayaan ekspor di negara lain.
"Bank ekspor impor saat ini tidak seperti lembaga pembiayaan ekspor seperti lembaga pembiayaan ekspor di Amerika yang bernama US EximBank yang secara penuh menjalankan fungsi pembiayaan penuh bagi ekspor dan impor Amerika," paparnya.
"LPEI diharapkan nantinya secara murni dapat membiayai ekspor Indonesia secara penuh," pungkasnya.
Penggunaan L/C Menurun
Penggunaan letter of credit (L/C) dari tahun ke tahun semakin menurun. Demikian dikatakan Ramlan Ginting, Deputy Direktorat Hukum Bank Indonesia, pada Media Workshop Memahami Fungsi dan Peranan Bank Dalam Perdagangan Internasional, di Ciawi, Bogor (25/06/2009).
"Penggunaan L/C menurun dari tahun ke tahun, Padahal melakukan kegiatan ekspor tanpa menggunakan L/C adalah hal yang beresiko," jelasnya.
Namun dirinya mengakui bahwa tidak mengetahui secara persis berapa jumlah penurunannya, karena BI memang tidak mempunyai data itu. "Tapi secara global pengguna L/C turun, terlebih di Amerika," ujar Ramlan.
Krisis global, lanjut Ramlan, adalah salah satu penyebab turunnya pengguna L/C. Kondisi keuangan perusahaan yang memburuk, membuat eksportir mengambil resiko. "Untuk menggunakan L/C, maka harus mengeluarkan dana yang lebih. itulah yang dirasa memberatkan," tegasnya.
Ramlan mengatakan bahwa pembiayaan melalui L/C lebih mahal, karena bank harus menanggung resiko jika terjadi masalah dalam pembayaran.
Penyebab lain pengguna L/C menurun adalah, tingkat kepercayaan antar perusahaan semakin meningkat. "Jika para eksportir berada pada satu grup, mereka lebih mengandalkan kepercayaan. Eksportir dari negara maju juga melakukan hal yang sama, bahkan ada juga yang melakukan open account ," terang dia.
Meski pengguna L/C semakin menurun, Ramlan, tetap meyakini pembayaran L/C tidak akan hilang. Karena dalam kegiatan ekspor dan impor perlu ada mekanisme untuk mengurangi resiko.
(dru/dnl)











































