"Sukuk diterbitkan, tapi yieldnya terlalu tinggi, mahal 11%. Saya udah tegur di sidang kabinet," cetus JK dalam debat capres yang berlangsung di studio Metro TV, Jakarta, Kamis (25/6/2009).
Pernyataan JK dan SBY dan capres Megawati disampaikan saat menjawab pertanyaan tentang utang untuk menutup defisit APBN.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Defisit bisa dikurangi lewat efisiensi belanja pemerintah pusat. Saya selalu bilang, kantor-kantor pemerintah itu terlalu mewah. Pegawainya juga terlalu besar. Itu harus kita kurangi, sehingga kita bisa membelanjakan hal-hal yang lebih bermanfaat," ujarnya.
Jika memang masih ada defisit anggaran, JK melanjutkan, pembiayaan tidak perlu lewat utang pemerintah tapi lewat pemberdayaan investasi dalam negeri.
"Biarlah BUMN saja yang mengutang, tidak perlu negara. BUMN bisa berinvestasi membangun infrastruktur dan hal lainnya," ujarnya.
Sementara Capres Megawati menyatakan, semuanya harus dilakukan secara mandiri. Dan sudah saatnya Indonesia berhenti untuk berutang.
"Sumber daya alam kita luar biasa, sekarang bagaimana bisa mengelolanya agar bisa membayar utang," katanya. Menurut Megawati, Indonesia harus punya kepercayaan diri bahwa bisa membayar utang.
Capres SBY mempunyai dua opsi untuk mengatasi defisit APBN yakni melalui optimasi anggaran dan juga mencari sumber pembiayaan.
"Saya pilih untuk tidak menjual aset negara, tidak melakukan privatisasi BUMN secara berlebihan," katanya.
Utang harus turun. Pemerintah sekarang mengandalkan utang dalam negeri untuk menutupnya yakni dengan penerbitan Surat Utang Negara (SUN) dan Sukuk. "Ini untuk menghidupkan pasar modal dalam negeri," katanya.
Untuk utang luar negeri terus dikurangi. "Kita punya mimpi jumlahnya bisa sekecil mungkin, kalau sudah kuat harus sirna," katanya.
Beberapa sumber yang bisa diandalkan untuk itu adalah dengan penerimaan pajak dan migas. (dro/dnl)











































