Yield (imbal hasil) obligasi maupun sukuk global yang diterbitkan pemerintah di awal tahun memang mahal, tapi masih wajar karena di tengah kondisi krisis ekonomi global. Sebelumnya capres Jusuf Kalla mengatakan yield sukuk gobal terlalu tinggi dan mahal.
Hal ini dikatakan oleh Dirjen Pengelolaan Utang Rahmat Waluyanto kepada detikFinance , Sabtu (27/6/2009).
"Yield (imbal hasil) ditentukan melalui mekanisme pasar (supply dan demand ), jadi bukan oleh pemerintah. Selain itu, tinggi rendahnya yield sangat dipengaruhi oleh oleh kondisi pasar saat itu dan jumlah dana yang diambil, serta rating Indonesia," tuturnya.
Rahmat mengatakan global sukuk yang diterbitkan pemerintah pada bulan April 2009 berjangka waktu 5 tahun dengan yield 8,8% .
"Yield tersebut lebih rendah dibanding global bond 5 tahun dengan yield 10.5% karena memang situasi pasar sedang pada puncak volatilitas," jelas Rahmat.
"Tapi dari sisi eksekusi bagus karena Pemerintah hanya bayar 'new issue premium ' 50 bps dibanding premi yang dibayar negara lain di atas 60 bps meskipun mereka menerbitkan pada situasi pasar yang lebih baik," tambah Rahmat.
Dipaparkan Rahmat ada 3 manfaat penerbitan obligasi atau sukuk global bagi Indonesia:
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
- Tidak terjadi 'crowding-out ' di pasar dalam negeri sehingga yield SUN Rupiah turun tajam.
- Cadangan devisa naik, nilai tukar Rupiah membaik
- Kredibilitas APBN terjaga karena pembiayaan dapat diamankan/terjamin.
(dnl/dnl)











































