Hal ini dikatakan oleh Ketua Komite Tetap Perdagangan Dalam Negeri Kadin Bambang Soesatyo kepada detikFinance, Senin (6/7/2009).
"Suhu politik pasca Pilpres 2009 diperkirakan lebih panas, mengingat sejumlah kalangan, sejak pekan lalu telah menyatakan sikap sulit untuk mempercayai pemungutan suara pilpres berlangsung jujur," tuturnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bambang mengatakan reaksi keras atas jalannya Pilpres 2009 dipastikan bakal mengeskalasi ketidakpastian, faktor ini akan menambah bobot risiko.
"Karena itulah perbankan akan memberi respons sangat minimal atas penurunan BI Rate itu. Alih-alih menurunkan suku bunga, bank-bank diduga tidak berani atau menunda pencairan kredit baru untuk modal kerja atau investasi. Tidak tertutup kemungkinan bank justru menaikkan bunga pinjaman mengingat naiknya bobot risiko," paparnya.
Artinya, dampak penurunan BI rate terhadap penurunan suku bunga pinjaman bank akan terwujud setelah stabilitas politik tercapai. Kapan stabilitas politik bisa tercapai, sulit diperkirakan dan bersifat relatif. Para eksekutif bank biasanya punya tolak ukur sendiri.
Β
"Jika laju inflasi terkendali, BI Rate pasti diturunkan lagi. Laju Inflasi beberapa bulan ke depan diperkirakan 5 sampai 7%," ungkapnya.
Namun menurut Bambang belum ada jaminan suku bunga pinjaman dan deposito bisa turun. "Agak membingungkan, karena instrumen BI Rate seperti tidak lagi jadi acuan," imbuhnya.
Januari 2009, BI Rate diturunkan 8,75%, Februari menjadi 8,25%, diturunkan pada Maret menjadi 7,75%, April menjadi 7,50%, Mei 7,25% dan Juni jadi 7%
"Sayang, hingga awal Juli, suku bunga pinjaman masih di level 13"," pungkasnya. (dnl/lih)











































