16 Bank Kucuri BEI US$ 210 Juta

16 Bank Kucuri BEI US$ 210 Juta

- detikFinance
Minggu, 12 Jul 2009 12:05 WIB
16 Bank Kucuri BEI US$ 210 Juta
Jakarta - Sebanyak 16 bank, baik dalam dan luar negeri, bersindikasi mengucurkan kredit untuk Bank Ekspor Indonesia (BEI) senilai US$ 210 juta.

Direktur Utama BEI, Arifin Indra mengatakan kredit sindikasi akan digunakan untuk refinancing kredit sindikasi BEI sebesar US$ 148 juta yang akan jatuh tempo pada 13 Juli 2009 dan untuk membiayai aktivitas kegiatan ekspor nasabah BEI (LPEI).

"Dukungan ini telah mengambil momentum tidak hanya dari perspektif bisnis tetapi juga dari orientasi kegiatan ekspor di Indonesia, dimana dampak krisis ekonomi global di 2008 masih terasa serta dilaksanakan pada awal proses transformasi BEI menjadi Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI)," jelas Arifin Indra dalam siaran pers yang diterima detikFinance, Minggu (12/7/2009).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sejumlah bank yang bersindikasi mengucurkan kredit untuk BEI adalah PT Bank Mandiri Tbk dengan US$ 35 juta sebagai pemberi kredit terbesar, PT Bank Ekonomi Raharja Tbk sebesar US$ 8 juta, PT Bank BNI (Persero) Tbk sebesar US$ 8 juta, PT Bank BRI (Persero) Tbk sebesar US$ 3 juta.

Selain bank dalam negeri, ada juga bank-bank luar negeri yang mengucuri dana ke BEI, yaitu The Bank of Tokyo-Mitsubishi UFJ, Ltd., PT Bank ICBC Indonesia, Intesa Sanpaolo S.p.A.Singapore Branch, Oversea-Chinese Banking Corporation Limited, dan Sumitomo Mitsui Banking Corporation.

Lalu ada Bank of China Limited, Citic Ka Wah Bank Limited,  ING Bank, N.V., Singapore Branch, Krung Thai Bank Public Company Limited, Singapore Branch, Doha Bank, Mega International Commercial Bank Co., Ltd., Offshore Banking Branch dan The Export-Import Bank of the Republic of China.

"Bank Mandiri menyambut baik dalam sindikasi yang telah ditandatangani, dan sebagai salah satu Mandated Lead Arrangers & Bookrunners (MLAB), melalui Cabang Hong Kong dan Cabang Singapura, merupakan yang terbesar dibandingkan dengan kreditur lainnya, yaitu sebesar US$ 35 juta. Kredit sindikasi ini dapat dikatakan sangat sukses, karena sedianya penawaran awal hanya US$ 125 juta namun oversubscribed menjadi $ 285 juta," jelas Direktur Treasury & International Banking Bank Mandiri Thomas Arifin.

Thomas Arifin menambahkan, berdasarkan kajian The Economist Inteligent Units (EIU) angka International Trade Indonesia di tahun 2009 akan merosot jadi USD$ 160 miliar (ekspor FOB US$ 91 miliar dan impor US$ 69 miliar) dibanding tahun 2008 senilai US$ 258 miliar. Dengan begitu maka nilai International Trade akan kembali ke posisi yang sama pada 2005.

"Setelah itu trendnya akan naik sekitar 10%, sama atau mengikuti pola kenaikan sebelum tahun 2008. Prediksi ini sebelum pilpres yang sukses. Karenanya tahun 2009 ini adalah kondisi Bottom International Trade Indonesia. Jadi prospek international trade kita cukup lumayan baik," tambah Thomas Arifin.

Nilai ekspor RI sampai dengan Mei 2009 mencapai US$ 41 miliar, bila dibanding periode yang sama tahun lalu turun 29% namun demikian untuk bulan Mei saja, nilai ekspor mencapai US$ 9,3 miliar dan menunjukkan trend peningkatan dari awal tahun.

Untuk tahun 2009, nilai ekspor diperkirakan masih lebih  rendah dari tahun lalu, namun masih terdapat beberapa komoditi non migas yang tidak banyak terpengaruh krisis, yaitu sektor pertanian dan perkebunan, seperti tembakau serta makanan olahan. Namun demikian, ekspor non migas dihadapkan pada  tantangan kebijakan proteksi yang digulirkan beberapa negara importir utama.

"Namun jika memperhatikan trend yang terus membaik, serta komitmen beberapa institusi keuangan dunia seperti ADB yang memberikan bantuan fasilitas dan pembiayaan trade, serta stabilnya harga minyak dunia, pertumbuhan ekspor RI tahun ini masih dapat optimis di level 4%-5%," tandas Thomas Arifin.
(lih/hen)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads