1.624 Perusahaan RI Cari Utangan Asing Senilai US$ 61,6 Miliar

1.624 Perusahaan RI Cari Utangan Asing Senilai US$ 61,6 Miliar

- detikFinance
Rabu, 15 Jul 2009 07:49 WIB
1.624 Perusahaan RI Cari Utangan Asing Senilai US$ 61,6 Miliar
Jakarta - Sebanyak 1.624 perusahaan di Indonesia memilih mencari pembiayaan di luar negeri. Mayoritas pembiayaan asing tersebar pada sektor manufaktur, transportasi dan komunikasi, serta pertambangan.

Demikian dikatakan Deputi Direktur Direktorat Internasional BI, Dian Ediana Rae kepada detikFinance di Jakarta, Rabu (15/07/2009).

"Jumlah debitur perusahaan di Indonesia yang melakukan pinjaman luar negeri dalam catatan BI sudah mencapai jumlah 1.624 perusahaan," kata Dian.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ia menambahkan, jumlah total pinjaman dari perusahaan-perusahaan tersebut mencapai US$ 61,6 miliar untuk posisi bulan Mei 2009. Kreditur-kreditur tersebut menurut Dian, terdiri dari  bank dan lembaga keuangan bukan bank.

"Serta beberapa perusahaan induk yang berasal dari antara lain Singapura, Eropa, Jepang dan Amerika Serikat," tambahnya.

BI memproyeksikan peluang masuknya kreditur asing yang melakukan pembiayaan ke Indonesia akan semakin terbuka.

Dengan tingkat pertumbuhan ekonomi Indonesia yang masih diatas 4 persen serta inflasi yang cukup rendah dan didukung oleh fluktuasi nilai rupiah yang terkendali maka investasi asing, baik terhadap investasi portofolio maupun Foreign Direct Investment (FDI) akan meningkat.  

"Kondisi ini diperkuat dengan hasil pemilu legislatif dan presiden yang berjalan dengan damai. Ditambah perbaikan persepsi juga terlihat dari perbaikan rating negara (sovereign rating) Indonesia," ujarnya.

Dian menambahkan, secara umum dapat dilihat bahwa pasar (investor) telah merespons positif hasil pilpres kemarin. 

"Salah satu reaksi positif pasar antara lain diperlihatkan oleh yield bond pada tanggal 9 Juli 2009 yang bergerak turun dibanding yield pada hari sebelumnya. Diperkirakan sentimen positif juga akan mendorong investor untuk kembali membeli aset-aset rupiah Indonesia," paparnya.

Investor akan kembali membeli berbagai aset-aset lokal baik dalam berbagai bentuk portofolio investasi seperti SBI dan SUN, serta saham-saham di pasar modal. 

"Indeks BEI (IHSG) juga terlihat meningkat dari 2.035,01 pada tanggal 6 Juli 2009 menjadi 2.083,25  pada tanggal 7 Juli 2009," tuturnya.

Namun peningkatan dana asing yang masuk ke Indonesia tersebut, lanjut Edi, belum bisa dilihat secara angka-angka.

"Karena untuk diketahui bahwa data Utang Luar Negeri (ULN) swasta yang dilaporkan ke BI punya time-lag satu bulan," tegasnya.

Jadi informasi untuk bulan Juli, tegas Dian, baru akan kami terima akhir bulan Agustus 2009.





(dru/qom)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads