"Saya menjalani seperti rumah tangga saja. Ngurusin republik sama kayak ngurus kartu kredit," kata Sri Mulyani dalam syuting acara 4 Lawan 1 di Studio Gaet, Jakarta, Selasa (14/7/2009) malam.
Kartu kredit sering dianggap sebagai 'dewa penolong' saat orang berbelanja. Hanya dengan menggesek kartu kredit, orang bisa membawa pulang barang yang mau dibelinya.
Namun sebenarnya menggunakan kartu kredit sama saja dengan orang berutang karena penggunanya tetap harus membayar uang yang digunakan plus bunga.
Masalah utang-berutang inilah yang bagi Sri Mulyani tak jauh beda dengan kondisi keuangan negara. Tapi tenang saja, wanita kelahiran Lampung ini sudah punya beragam jurus jitu untuk urusan utang piutang.
"Kalau tidak suka berutang, caranya kan income ditambah atau pengeluaran dihemat. Jika semua punya NPWP dan kalau pembayar pajak banyak, kalau dikumpulkan, rupiah demi rupiah, maka hasilnya bisa triliunan. Belanjanya dilihat, bisa diefisienkan atau tidak," katanya.
Namun mantan Direktur IMF ini menyadari, sebagian besar masyarakat Indonesia memang belum sadar pajak, apalagi punya NPWP. Tapi justru untuk itulah dibutuhkan adanya pajak, sehingga bisa menjadi subsidi silang untuk menyediakan fasilitas yang memadai bagi seluruh rakyat.
"Masyarakat kita banyak yang belum beruntung. banyak pengangguran. Kita sendiri di sini bisa puas, tapi bagaimana yang lain, bagaimana kalau masyarakat tidak bisa menikmati air bersih, jalan raya dan lainnya, itu bagaimana," ujarnya.
Hal terpenting yang terakhir adalah kualitas pengelolanya. Sebanyak apapun pendapatan yang bisa dikumpulkan negara, jika pengelolanya buruk, maka hasilnya juga tidak akan optimal.
"Yang benar kan dikelola oleh yang benar, siapa yang mengelola yaitu pemerintah, itu yang seharusnya menjalankan birokrasi, nah kalau tidak baik, ya di-reform ," katanya. (dru/lih)











































