Pada akhir Juni 2009, China memiliki cadangan devisa US$ 2,13 triliun atau melonjak hingga 17,8% secara year on year. Dalam kurun 6 bulan pertama 2009, cadangan devisa China bertambah hingga US$ 185,6 miliar.
Khusus selama Juni, cadangan devisa China bertambah US$ 42,1 miliar, dan meningkat US$ 30,2 miliar dibandingkan periode yang sama tahun 2008. Cadangan devisa China pada akhir 2008 tercatat 'hanya' US$ 1,946 triliun.
Menurut Bank Sentral China, seperti dikutip dari AFP, Rabu (15/7/2009), kenaikan cadangan devisa itu menunjukka bahwa aliran modal ke China sudah kembali seiring pemulihan ekonomi negara tersebut setelah didera krisis finansial global.
Cadangan devisa China memang terus menggelembung dalam beberapa terakhir, dipicu oleh melonjaknya investasi asing, surplus perdagangan dan masuknya aliran 'hot money'.
China kini tercatat menginvestasikan sebagian besar uangnya dalam dolar AS, yang dianggap sebagai mata uang paling aman meski tingkat imbal hasilnya rendah. Namun seiring terjadinya krisis, China mulai menyerukan diversifikasi mata uangnya untuk mendapatkan imbal hasil yang berimbang.
Sebagai catatan, cadangan devisa Indonesia per akhir Juni tercatat sebesar US$ 56,576 miliar. Angka tersebut turun dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar US$ 57,934 miliar.
Setelah China, cadangan devisa terbesar kedua diduduki oleh Jepang. Namun angkanya hampir separuh dari cadangan devisa China. Jepang per akhir Mei 2009 mencatat cadangan devisa hingga US$ 1,056 triliun.
(qom/lih)











































