Pembiayaan Joint Financing di Semester I-2009 Tumbuh 18,8%

Pembiayaan Joint Financing di Semester I-2009 Tumbuh 18,8%

- detikFinance
Rabu, 29 Jul 2009 12:02 WIB
Pembiayaan Joint Financing di Semester I-2009 Tumbuh 18,8%
Jakarta - Outstanding kredit dalam bentuk joint financing yang disalurkan perbankan melalui perusahaan pembiayaan mengalami kenaikan sebesar 18,8 persen pada semester I 2009 dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Setelah tumbuhΒ  37 persen pada 2008 dibandingkan 2007, pertumbuhan kredit sektor joint financing sempat mengalami mengalami perlambatan.

"Sampai dengan bulan Mei 2009, kredit masih tumbuh sedikit, yakni hanya sebesar Rp 2,3 triliun atau hanya naik 0,28 persen," kata Deputi Direktur Direktorat Penelitan dan Pengaturan Perbankan Bank Indonesia (BI) Agusman dalam talkshow bertajuk Tantangan Bisnis Joint Financing di Industri Perbankan di Hotel Intercontinental, Jakarta, Rabu (29/7/2009).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Secara garis besar, Agusman mengatakan rasio kredit bermasalah (NPL) secara umum berada dalam batas-batas yang relatif aman, walaupun sempat berfluktuasi.

"Ada batas-batas yang wajar di NPL sektor tersebut, dan masih terkendali," jelasnya.

Kredit Joint Financing menurut Agusman dipengaruhi juga oleh Financial Stability Indeks (FSI).

"Per akhir Juni 2009 FSI tercatat sebesar 1,94 persen atau menurun dibandingkan posisi akhir Mei 2009 sebesar 2,02 persen. Hal tersebut adalah karena dipicu oleh penurnan volatilitas di sektor pasar saham dan obligasi," katanya.

Agus menilai bahwa melalui FSI tersebut dapat dilihat daya beli masyarakat yang cenderung naik atau turun mengikuti indeks stabilitas tersebut.

Di tempat yang sama, Ketua Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI), Wiwie Kurnia mengatakan perusahaan pembiayaan yang ikut di joint financing 70 persennya masih dari sektor otomotif.

"70 persen pembiayaan dari perusahaan pembiayaan masih di sektor otomotif, yakni sepeda motor," ujarnya.

Produksi sepeda motor pada tahun 2008 tercatat sebanyak 6 juta unit di Indonesia. "Dan merupakan nomor 3 terbesar di dunia," tutur Wiwie.

Wiwie mengatakan pada tahun 2009, produksi sepeda motor diproyeksikan akan turun 30 persen.

"Untuk mobil sendiri di Indonesia produksinya susah ditebak, kadang maju dan mundur, hal ini dikarenakan tingkat daya beli masyarakat yang rendah lebih tinggi di sepeda motor," paparnya.

Pada tahun 2008 kemarin, lanjut Wiwie, APPI telah melakukan pembiayaan sebesar Rp 140 triliun.

"Dan karena faktor krisis, tahun 2009 ini diproyeksikan turun hanya sebesar Rp 100 triliun dimana tetap sektor otomotif yang dominan," jelasnya.

(dru/lih)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads