Demikian disampaikan dalam siaran pers yang diterima detikFinance , Kamis (30/7/2009).
Pertumbuhan laba bersih tersebut didukung oleh peningkiatan pendapatan bunga bersih sebesar 26,6% dari Rp 654,6 miliar menjadi Rp 829 miliar serta peningkatan pendapatan non bunga sebesar 50.3% dari Rp 185,3 miliar menjadi Rp 278,4 miliar.
Tingginya pertumbuhan pendapat non bunga ini disumbang antara lain oleh pendapatan dari transaksi valuta asing yang tumbuh mencapai 188,4%.
Kredit Tumbuh Negatif
Akan tetapi pertumbuhan kredit OCBC NISP sepanjang semester I-2009 tumbuh negatif 6% menjadi Rp 18,9 triliun dari periode yang sama tahun lalu yang sebesar Rp 20,2 triliun.
Penurunan kredit ini disebabkan karena lebih besarnya pembayaran angsuran kredit yang dilakukan debitur dibandingkan dengan kredit baru yang disalurkan.
Selain itu perseroan juga sangat selektif di dalam menyalurkan kredit baru dengan pertimbangan kondisi perekonomian global yang belum stabil.
Meskipun begitu, rasio kredit bermasalah (NPL) perseroan pada semester I-2009 cukup terjaga, dimana NPL gross sebesar 3,91% dan NPL net 1,89%.
Berdasarkan sektor usahanya, Bank OCBC NISP menyalurkan kredit kepada sektor Perindustrian (24,2%), Perdagangan (23,3%), Jasa (16,9%), Konsumsi 30,6%, dan lainnya (5%).
โDengan penyebaran kredit ke berbagai sektor ekonomi dan segmen, kami berhasil menjaga NPL pada level yang manageable,โ ujar Presiden Direktur Bank OCBC NISP, Parwati Surjaudaja.
Dari sisi pendanaan, OCBC NISP berhasil tumbuh dengan baik dari Rp 21,3 Triliun pada akhir Juni 2008 menjadi Rp 27,3 Triliun per akhir Juni 2009, atau naik 28,2%.
Meningkatnya simpanan nasabah yang cukup signifikan dibandingkan dengan total kredit yang disalurkan, mengakibatkan Loan to Deposit Ratio (LDR) Bank juga menurun menjadi 69,4% pada akhir Juni 2009 dibandingkan dengan 95% pada akhir Juni 2008. (dnl/lih)











































