Porsi pembiayaan masing-masing bank adalah Bank Mandiri sebesar Rp 1,25 triliun, BNI sebesar Rp 750 miliar, BRI sebesar Rp 500 miliar dan BCA sebesar Rp 500 miliar. Bank Mandiri ditunjuk sebagai coordinating lead arranger dalam konsorsium tersebut.
Direktur Utama Pertamina Karen Agustiawan berharap pinjaman ini akan dapat mempercepat kegiatan ekspansi dan pengembangan usaha Pertamina ke depan sesuai sasaran strategis yang telah ditetapkan perseroan. Proses pinjaman ini telah dimulai sejak akhir Maret 2009 dan mengalami oversubcribe sebesar Rp 4,5 triliun.
"Kami memutuskan untuk tahap ini hanya mengambil pinjaman Rp 3 triliun yang akan diberikan oleh 4 bank dengan tenor 3 tahun," ungkap Karen dalam sambutannya dalam penandatangan pinjaman korporasi kepada Pertamina, di Kantor Pusat Pertamina, Jalan Perwira, Jakarta, Jumat (31/7/2009).
Pada saat yang sama, Pertamina juga menerima fasilitas pinjaman dalam bentuk valas dollar AS sebesar US$ 400 juta dari 16 bank nasional dan internasional dengan tenor 3 tahun.
Keenam belas bank tersebut adalah Citibank N.A Jakarta Branch (Citi), PT ANZ panin Bank,Bank of Tokyo Mitsubishi UFJ, Ltd Jakarta Branch,BNP Paribar, BRI, Sumitomo Mitsui Banking Coorporation, Singapore Branch, BCA, Overseas-Chinese Banking Corporation Limited, PT Bank Mizuho Indonesia, PT Bank Pan Indonesia, tbk, The Hongkong and Shanghai Banking Corporate Limited, Chinatrust Commercial Bank Co, Ltd, Singapore Branch, Calyon, Singapore branch, CIMB, Bank Berhad, Singapore Branch, Natixis, Singapore Branch and Qatar National Bank SAQ, Singapore Branch.
Pertamina menunjuk Citibank sebagai coordinating Bank untuk bekerjasama dengan mandated banks lainnya sehubungan dengan negosiasi dan dokumentasi fasilitas pinjaman.
Dalam kesempatan yang sama, PT Pertamina (Persero) juga telah menunjuk agen yang akan membantu administrasi keuangan antara PT Pertamina (Persero) dengan para kreditur. Dalam hal ini institusi yang ditunjuk yaitu Bank of Tokyo-Mitsubishi UFJ ltd (BTMU) Jakarta Branch untuk fasilitas USD dan Bank Mandiri untuk fasilitas rupiah.
Menurut Presiden Utama Bank Mandiri, Agus Martowardojo menyatakan corporate loan diharapkan akan menjadi momentum penting dan dapat memberikan sinyal baik akan pertumbuhan positif ekonomi Indonesia kepada dunia luar.
"Kami berharap penandatanganan hari ini akan semakin menggairahkan kegiatan ekonomi di tengah situasi ekonomi global yang belum pulih sepenuhnya, terutama di bidang energi," ungkap Agus. (epi/dnl)











































