Kepala Ekonom BNI Tony Prasetiantono menjelaskan setidaknya ada 2 alasa yang menjadi pendorong BI Rate kembali diturunkan.
"BI rate saya rekomendasikan diturunkan ke 6,5%. Ada dua alasannya," ujarnya kepada
detikFinance, Rabu (5/8/2009).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
(Januari-Juli 2009) dan inflasi year on year 2,71% memberi ruang gerak penurunan
sukubunga.
Lalu alasan kedua, rupiah dinilai sedang kuat-kuatnya karena modal asing masuk ke
Indonesia dan memborong saham.
"Ini tercermin dari IHSG yang akhir-akhir ini menguat luar biasa, terutama karena
dorongan investor asing. Masuknya dana asing untuk beli saham di Jakarta menyebabkan
demand terhadap rupiah meningkat tajam, sehingga rupiah menguat," paparnya.
Kadua alasan itulah yang bisa memberi ruang gerak penurunan BI Rate lebih lanjut
tanpa dihantui kekawatiran capital outflow.
"Memang masalahnya jika BI Rate turun terus tapi tidak diikuti penurunan suku bunga
bank, bisa menyebabkan kebijakan BI tersebut menjadi 'tidak berwibawa'. Namun
menurut saya situasi sekarang lain, sekarang momentum penurunan BI Rate dilakukan di
saat likuditas global mengalir ke Indonesia," paparnya.
Dan ini menurut Tony akan menstimulasi bank untuk menurunkan suku bunganya, karena likuiditas sektor keuangan di Indonesia mulai mengalami relaksasi (melonggar).
"Momentum ini harus dimanfaatkan sebaik2-nya untuk menurunkan suku bunga," kata Tony.
(dnl/qom)











































