Hal ini disampaikan oleh Dirjen Pengelolaan Utang Rahmat Waluyanto kepada detikFinance, Kamis (6/8/2009).
"Salah besar kalau ada pendapat bahwa bunga kredit bank tidak bisa turun karena yield atau bunga SBN (Surat Berharga Negara) tinggi," ujarnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pertama, menurut Rahmat Deputi Gubernur Senior BI sendiri mengatakan suku bunga pinjaman sulit turun karena bank harus mempertahankan bunga deposito tinggi agar nasabahnya tidak lari.
"Apalagi 50% deposito perbankan hanya dari beberapa gelintir nasabah besar yang mendikte bank supaya bunga deposito tetap tinggi. Karena bunga deposito tinggi, cost of funds tinggi, akibatnya bunga pinjaman sulit turun," tuturnya.
Alasan kedua, bank masih enggan menyalurkan kredit karena risiko di sektor riil masih dianggap tinggi sehingga bank khawatir NPL akan naik.
Alasan ketiga, yield SUN ditentukan oleh mekanisme pasar bukan oleh Pemerintah.
"Pelaku pasar dalam menentukan yield SBN mempertimbangkan bunga SBI. Misalnya, kalau bunga SBI 6 bulan sebesar 6,9% maka yield SUN yang tenornya lebih panjang yield-nya akan lebih tinggi. Jadi agar yield atau kupon SBN turun, maka bunga SBI juga harus turun," paparnya.
BI sebelumnya mencatat, sejak dimulainya fase pelonggaran kebijakan moneter melalui penurunan BI Rate, bank-bank memang sudah meresponsnya dengan penurunan bunga namun tidak sebanding.
Semenjak BI Rate diturunkan sejak awal tahun sebesar 250 basis poin, BI mencatat suku bunga simpanan perbankan (deposito) telah mencatat penurunan sekitar 188 bps. Sementara itu, respon suku bunga kredit lebih terbatas yaitu sekitar 24 bps.
(dnl/qom)










































