BI Mestinya Lebih Agresif Turunkan BI Rate

BI Mestinya Lebih Agresif Turunkan BI Rate

- detikFinance
Kamis, 06 Agu 2009 10:06 WIB
BI Mestinya Lebih Agresif Turunkan BI Rate
Jakarta - Penurunan suku bunga acuan BI Rate yang hanya 25 basis poin menjadi 6,5% dinilai tidak cukup. Bank Indonesia (BI) mestinya bisa menurunkan BI Rate lebih agresif lagi di tengah inflasi Indonesia yang sudah sangat rendah.

"Penurunan BI Rate seharusnya bisa lebih agresif lagi, bila perlu hingga di bawah 6 persen atau antara 5-5,75 persen," jelas Ekonom BII, Samuel Ringoringo dalam perbincangannya dengan detikFinance, Kamis (6/8/2009).

Ia memaparkan, ada sejumlah alasan yang dijadikan landasan untuk BI menurunkan BI Rate lebih agresif lagi, yakni:

  1. Inflasi rendah. Besar kemungkinannya, hingga akhir tahun inflasi tahunan akan berada di kisaran 4 persen plus minus 0.25 persen
  2. Suku bunga rendah akan meningkatkan permintaan terhadap Surat Berharga Negara (SBN), menurunkan yield hingga pada akhirnya menurunkan persepsi risiko. Dengan demikian,
  3. Perbankan akan ikut memangkas suku bunga kreditnya
  4. Suku bunga rendah juga akan mengurangi risiko peningkatan NPL dan memicu pertumbuhan kredit
  5. Suku bunga rendah akan membuat rupiah tidak terlalu menguat, sehingga ekspor tidak terancam dan neraca perdagangan kita bisa tetap stabil
  6. Suku bunga rendah dapat memacu investasi di sektor riil sehingga dana yang masuk ke Indonesia tidak hanya dana yang sifatnya jangka pendek.

Sebagai catatan, suku bunga antar bank saat ini 6,80-7%, yield obligasi pemerintah tenor 1 tahun sebesar 10.08 persen, dan rata-rata suku bunga kredit dasar (base lending rate ) masih bergerak di kisaran 12,8- 13.20 persen beberapa hari terakhir.

Samuel melihat, bahwa saat ini bukan saatnya lagi mengambil opsi kebijakan hati-hati. Yang paling penting adalah memanfaatkan momentum untuk lebih menggerakkan lagi perekonomian.

"Ekonomi kita, China dan India sudah cukup tinggi. Artinya, selagi ada kesempatan harus dimanfaatkan. Pilihannya bukan harus hati-hati tapi harus menggerakkan perekonomien dengan memanfaatkan momentum," urainya.

Suku bunga rendah itu juga diharapkan bisa lebih mengatur struktur aliran dana yang masuk ke Indonesia. Selama ini dana-dana yang masuk lebih banyak yang sifatnya jangka pendek. Menurut Samuel, penurunan suku bunga yang lebih agresif bisa mendorong orang untuk mau menempatkan dananya ke sektor riil.

"Suku bunga 5,75% kenapa tidak, kalau inflasi bisa di bawah 4%. Selama ini kita terlalu terbiasa dengan suku bunga yang tinggi sehingga kita sendiri terbiasa memandang risiko kita tinggi. Padahal jika bunga rendah, maka risiko kita berarti akan turun dan hal itu bisa mendorong yield obligasi rendah yang pada akhirnya bisa memicu suku bunga kredit lebih rendah," paparnya.

Selain itu, suku bunga yang tinggi saat ini membuat spread bunga Indonesia dengan yang lain cukup besar. Hal itu menyebabkan nilai tukar rupiah terus menguat. Penguatan rupiah ini jika berlanjut dikhawatirkan bisa mempengaruhi neraca perdagangan Indonesia.
Samuel menilai, posisi kurs yang saat ini di level 9.900 per dolar AS sudah terlalu kuat. Posisi rupiah yang paling aman untuk eksportir dan importir adalah di level 10.000 per dolar AS. (qom/dnl)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads