BPR Sulit Bersaing Dengan Bank Umum di Sektor UMKM

BPR Sulit Bersaing Dengan Bank Umum di Sektor UMKM

- detikFinance
Selasa, 18 Agu 2009 11:22 WIB
BPR Sulit Bersaing Dengan Bank Umum di Sektor UMKM
Jakarta - Tantangan Bank Perkreditan Rakyat (BPR) saat ini diniliai akan semakin berat. Pasalnya saat ini tidak hanya BPR yang menggarap pasar Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) namun perbankan umum, asing, bahkan campuran juga menggarap pangsa pasar yang saat ini sudah mempunyai 51,3 juta unit usaha tersebut.

Hal tersebut diungkapkan oleh Deputi Direktur Direktorat Kredit BPR dan UMKM Bank Indonesia (BI), Khairil Anwar dalam acara seminar bertajuk "Pranata Pasar Microfinance Menuju Kompetisi yang Sehat dalam Perspektif Demokrasi Ekonomi" di Hotel Bidakara, Jakarta, Selasa (18/08/2009).

"Tantangan yang dihadapi BPR saat ini bukan semakin ringan namun tambah berat, kita dari Direktorat Kredit BPR dan UMKM akan terus melakukan penguatan daya saing bagi BPR," ungkap Khairil.

Khairil mengatakan saat ini hampir terdapat 51,3 juta unit usaha UMKM yang hampir menguasai 99,9% jumlah seluruh pelaku usaha.

"Tidak lupa UMKM memberikan kontribusi 55,6% terhadap pertumbuhan PDB," katanya. Namun dikatakan Khairil kondisi yang terjadi saat ini akan menjadi tantangan atau momok yang menakutkan bagi BPR.

Hal ini dikarenakan, lanjut Khairil, banyak sekali lembaga keuangan berupa bank dan non bank yang menggarap pasar mikro saat ini. "Bahkan bank asing dan juga menggarap pasar UMKM yang mencapai 3,99% dari pangsa pasar total yang hampir menyamai porsi BPR," jelasnya.

Untuk meningkatkan daya saing BPR, lanjut Khairil, perlu dibenahi kapasitas jaringan BPR yang melayani UMKM yang begitu besar. "Diperlukannya kantor banyak serta jaringan yang luas bagi perbankan BPR kemudian struktur modal yang perlu diperkuat sehingga BPR dapat menyalurkan kredit dengan lancar dan mudah," paparnya.

Khairil mengatakan, suku bunga acuan (BI Rate) juga sudah mengalami penurunan 300 bps sampai saat ini menjadi 6,5%. Namun hanya diikuti oleh perbankan penurunannya sekitar 50-100 bps sehingga posisi suku bunga masih 13-14%.

"Masalah suku bunga juga menjadi kendala bagi BPR dalam bersaing. Per Juni 2009 suku bunga deposito BPR hanya bisa bertahan di 11,65% walaupun suku bunga penjaminan LPS hanya 10,5%," ujar Khairil.

Akibatnya, sambung Khairil, dengan cost Of fund yang tinggi maka bunga kredit UMKM mencapai sebesar 22,25-33,5%. Salah satu upaya BPR untuk bersaing maka perlu juga menggunakan alternatif. Dikatakan Khairil maka dengan mengurangi margin keuntungan atau menambah jumlah modal mungkin salah satu upaya untuk bersaing.

Khairil melanjutkan tidak lupa BPR harus meningkatkan pelayanan dan mendekatkan diri kepada nasabah dengan maksimal. "Serta mengembangkan inovasi produk," katanya.

Di tempat yang sama pengamat perbankan Aviliani mengatakan perkembangan sumber dana BPR juga merupakan kunci BPR dalam meningkatkan kualitas permodalan. "Saat ini sumber dana BPR (yoy ) tumbuh di kisaran 10,05% dan sampai dengan bulan Juni 2009 tercatat dana BPR sebesar Rp 27,14 triliun," tuturnya.

Untuk meningkatkan kulaitas permodalan dan penyaluran kredit BPR, menurut Aviliani perlu dilakukan linkage program. "Perlunya linkage program memungkinkan bank umum dan BPR bekerjasama dalam melakukan kredit. Pada sisi lain, program tersebut dapat memposisikan BPR bukan menjadi saingan tetapi mitra kerja," paparnya.

Terbentuknya lembaga dana Apex (LDA/Apex Bank) akan menjadi salah satu kabar baik bagi BPR. Dikatakan Aviliani Apex dapat menjadi lembaga pelindung BPR sekaligus sebagai lembaga dana BPR.

"Mekanismenya sendiri yaitu ketika ada BPR yang membutuhkan likuiditas maka ia bisa mengajukan pinjaman ke Apex Bank dengan tingkat bunga rendah," tuturnya.

Lebih lanjut Aviliani mengatakan perlunya pembatasan kredit antara BPR dengan Bank umum perlu dilakukan."Misalnya BPR melakukan penyaluran kredit untuk UMKM pada besaran kurang dari Rp 50 juta sedangkan bank umum pada besaran lebih dari Rp 50 juta," tandasnya.
(dru/dnl)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads