"Saat ini yang perlu dilakukan perbankan harus serentak dalam menurunkan bunga dan permintaan bunga," kata Ketua Perhimpunan Bank-Bank Umum Nasional (Perbanas) Sigit Pramono disela Acara Seminar Microfinance di Hotel Bidakara, Jakarta, Selasa (18/8/2009).
"Jika tidak serentak dalam menurunkan suku bunga nya, misalnya satu bank umum punya deposan BUMN, kalau dia menurunkan bunganya 0,25 persen aja, maka nanti dijamin deposannya akan pindah ke bank yang bunganya lebih tinggi," tambah Mantan Dirut BNI ini.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jika kita turunkan maka orang akan berbondong-bondong pindah ke instrumen tersebut," katanya.
Ia menambahkan, jika ingin suku bunga turun maka cost of fund perbankan juga harus turun ditambah dengan harus adanya efisiensi biaya operasi perbankan.
"Kemudian bank harus menerima marginnya turun dan premi risiko juga turun maka nantinya suku bunga pun bisa turun," ungkapnya.
Senada dengan Sigit, Anggota Komisi XI DPR-RI, Harry Azhar Azis mengatakan bahwa jika memang takut akan kehilangan likuiditas di masyarakat maka perbankan khususnya bank-bank BUMN yang memang menjadi market leader didalam perbankan harus menurunkan suku bunganya secara bersamaan.
"Hal ini harus mendapat dorongan dari pemerintah yang memang mempunyai tanggung jawab karena pemerintah merupakan pemegang saham bank-bank BUMN tersebut," papar Harry.
Pemerintah, lanjut Harry, harus mengatasi persoalan antar bank BUMN yang terjadi saat ini karena sama-sama bersaing mengambil likuiditas dalam masyarakat.
Dikatakan Harry, bank-bank BUMN seharusnya tidak takut akan kehilangan para nasabahnya karena saat ini pangsa pasarnya dan kepercayaan akan bank BUMN di masyarakat masih besar.
"Bank pemerintah jika tidak mempunyai misi seperti itu seperti takut akan kehilangan likuiditas, untuk apa punya bank pemerintah, kita swastakan saja," tegasnya.
(dru/qom)










































