Penyebab Tingginya Bunga Kredit

Penyebab Tingginya Bunga Kredit

- detikFinance
Jumat, 21 Agu 2009 15:07 WIB
Penyebab Tingginya Bunga Kredit
Jakarta - Bank-bank sepertinya sedemikian 'keras kepala' soal suku bunga kredit. Penurunan BI Rate yang sudah dilakukan Bank Indonesia secara bertahap hingga kini sebesar 6,5% tetap tidak diikuti oleh penurunan bunga kredit.

BI mencatat, BI Rate telah diturunkan sebanyak 250 basis poin (bps) selama semester I-2009. Namun respon penurunan suku bunga kredit perbankan masih terbatas yaitu hanya 24 bps, sementara suku bunga simpanan hanya turun 180 bps.

Apa sebenarnya yang menyebabkan suku bunga kredit kita sedemikian tinggi? Direktur Riset Ekonomi dan Kebijakan Moneter, Perry Warjiyo menyatakan, salah satu penyebabnya adalah tingginya cost of fund perbankan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Perry mengatakan Cost Of Fund perbankan saat ini rata-rata mencapai 10 persen dengan overhead cost sebesar 2 persen.

"Sedangkan profit margin mencapai 2 persen dengan premi risiko 1 persen. Maka jika dijumlahkan ya suku bunga dikisaran 14 persen sampai 15 persen karena Cost Of Fund yang tinggi itu," jelas Perry usai seminar SP Forum di Hotel Athlete Century Park, Jakarta, Jumat (21/08/2009).

Karenanya, lanjut Perry, kesepakatan 14 bank besar untuk menurunkan suku bunga simpanan hingga maksimal 8% diharapkan bisa membantu penurunan suku bunga kredit. Dengan penurunan bunga kredit, maka pengucuran kredit pun diharapkan bisa semakin lancar.

"Harapan kita dengan turunnya bunga kredit volume pengucuran kredit juga akan naik," ujarnya.

Hingga Juni, penyaluran kredit sudah mencapai Rp 30 triliun. Namun menurut Perry, realisasinya hanya sekitar Rp 27 triliun karena di pertengahan semester ada pelunasan.

Terkait target pertumbuhan kredit nasional sebesar 10 persen tahun 2009, Perry menyatakan untuk mencapainya, maka ada masalah struktural yang perlu diperbaiki.

"Bagaimana menurunkan overhead cost tersebut, kemudian premi risiko. Dan soal inflasi, sampai jangka panjang BI menargetkan inflasi bisa dikisaran 3 persen dan tahun 2014 bisa mencapai 4 persen, maka BI Rate pun akan turun dan didukung penurunan bunga deposito dan kredit," papar Perry.

Ditempat yang sama, Ryan Kiryanto, pengamat perbankan dari BNI mengatakan bahwa kesepakatan 14 bank yang tergolong Systematically Important Bank atau SIB terkait penetapan suku bunga deposito akan cukup efektif untuk menjinakkan perang suku bunga yang tidak sehat dan sekaligus akan menurunkan suku bunga simpanan dan kredit.

"Karena BI akan memberikan sanksi kepada bank yang melanggar kesepakatan, kemudian 14 bank tadi merupakan market leader dengan market share untuk DPK lebih dari 50 persen," ujarnya.

Dikatakan Ryan, ke-14 bank tersebut akan dapat menjadi acuan atau benchmark bagi bank-bank di luar 14 bank untuk turunkan suku bunga juga.

"Diyakini efek positif ini akan mulai tampak pada kuartal 4 nanti karena ada masa penyesuaian dan kredit akan segera tumbuh lebih kencang," tandasnya.



(dru/qom)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads