Beli Rumah via KPR Masih Favorit

Beli Rumah via KPR Masih Favorit

- detikFinance
Senin, 24 Agu 2009 09:20 WIB
Beli Rumah via KPR Masih Favorit
Jakarta - Pembelian rumah dengan cara kredit masih menjadi favorit konsumen. Hanya 7,9% konsumen yang membeli rumah dalam bentuk cash keras.

Berdasarkan survei properti Bank Indonesia yang dikutip detikFinance, Senin (24/8/2009), sebagian besar konsumen (71,2%) tetap menggunakan fasilitas Kredit Kepemilikan Rumah (KPR) saat membeli rumah. Suku bunganya berkisar antara 13-14%.

Selain KPR, konsumen memilih pembayaran cash bertahap (20,0%) dan sebagian kecil dilakukan dalam bentuk cash keras (7,9%).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Berdasarkan survei tersebut, harga properti selama triwulan II juga naik. Hal itu terlihat dari Indeks Harga Properti Residensial triwulan II-2009 naik sebesar 0,69% (q-t-q), lebih tinggi dibandingkan dengan kenaikan indeks pada triwulan sebelumnya (0,48%).

Kenaikan indeks harga tersebut sejalan dengan meningkatnya tingkat penjualan properti residensial. Penyebab utama kenaikan harga properti residensial berasal dari kenaikan harga bahan bangunan dan upah pekerja. Namun kenaikan harga diperkirakan akan melambat pada triwulan III-2009.

Berdasarkan tipe rumah, kenaikan harga terjadi pada semua tipe rumah dengan kenaikan tertinggi terjadi pada tipe rumah kecil (0,83% secara q-t-q).

Sementara berdasarkan wilayah, kenaikan harga paling tinggi terjadi di wilayah Banjarmasin yaitu sebesar 1,59% (q-t-q) terutama pada rumah tipe besar (2,56%). Untuk wilayah Jabodebek dan Banten, kenaikan harga properti residensial pada triwulan II-2009 tercatat lebih tinggi dari kenaikan pada triwulan sebelumnya, yaitu dari 0,42% menjadi 0,94%.

Tingkat penjualan properti residensial pada triwulan II-2009 meningkat sebesar 26,10%. Berdasarkan tipe rumah, penjualan rumah tipe menengah mengalami kenaikan paling tinggi (38,11%), diikuti oleh rumah tipe kecil (25,29%) dan tipe rumah besar (14,89%).

Hasil survei juga menunjukkan sebagian besar responden memperkirakan kondisi penawaran dan permintaan properti yang tetap stabil ini masih akan berlanjut pada triwulan III-2009 dan tahun 2010, dengan tipe rumah kecil dan menengah yang diperkirakan mengalami tingkat penjualan paling tinggi.

Sementara itu, masih tingginya suku bunga KPR, kenaikan harga bahan bangunan, tingginya tingkat pajak dan sulitnya perijinan/birokrasi menurut responden masih merupakan faktor utama penghambat bisnis properti.

Survei Harga Properti Residensial (SHPR) merupakan survei triwulanan yang dilaksanakan sejak triwulan I-1999 terhadap beberapa pengembang proyek perumahan (developer) di 12 kota yaitu Medan, Padang, Palembang, Bandar Lampung, Bandung, Semarang, Yogyakarta, Surabaya, Denpasar, Banjarmasin, Manado, dan Makassar.

Wilayah Jabotabek mulai disurvei dan sekaligus digabung dalam Indeks Harga Properti Residensial (IHPR) pada triwulan I-2002. Dan pada triwulan 1-2004 ditambah 1 kota lagi yaitu Pontianak sehingga seluruhnya ada 14 kota. Sejak tahun 2007, SHPR di wilayah Jabotabek diperluas dengan mencakup daerah Banten (Serang dan Cilegon). Jumlah responden mencakup 45 pengembang utama di wilayah jabodebek-Banten, dan sekitar 215 pengembang di 13 Kantor Bank Indonesia (KBI).


(qom/dnl)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads