Hal ini berbeda dengan tahun 1995, saat terjadi krisis perbankan nasional. Bank-bank mengalami keterpurukan karena rupiah terdepresiasi terhadap dolar AS.
Kepala Ekonom PT Bank Mandiri Tbk Mirza Adityaswara dalam Outlook Macroeconomi Indonesia mengatakan, komposisi kredit valuta asing (valas) industri perbankan di Indonesia sampai dengan Juni 2009 kemarin sebesar 16,1 persen.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dikatakannya pada tahun 1995 kemarin saat terjadi krisis, komposisi kredit valas industri perbankan Indonesia mencapai angka 35 persen.
"Akibatnya, di tahun itu saat rupiah terpuruk cukup dalam karena penguatan dolar AS banyak bank-bank yang terkena imbasnya karena utang valas mereka mengalami pembengkakan," jelasnya.
Selain itu, lanjut Mirza, karena pelemahan rupiah tersebut banyak dari debitur valas mereka mengalami pembengkakan utang dan menyebabkan kemacetan.
Mirza menambahkan, sejak terjadinya krisis keuangan yang melanda dunia di akhir tahun 2008 kemarin banyak bank-bank yang mengerem pengucuran kredit mereka dalam bentuk dolar.
"Bahkan, beberapa bank melakukan konversi utang debitur mereka yang semula menggunakan dolar dipindahkan menjadi rupiah, dan ternyata usaha tersebut cukup efektif," tuturnya.
Dengan usaha tersebut, Mirza melanjutkan, saat ini tak ada bank yang terpuruk akibat rupiah yang turun sampai dengan Rp 12.000.
(dru/qom)










































