BI: Pendapatan Bunga Perbankan Terlalu Tinggi

BI: Pendapatan Bunga Perbankan Terlalu Tinggi

- detikFinance
Minggu, 30 Agu 2009 11:34 WIB
BI: Pendapatan Bunga Perbankan Terlalu Tinggi
Jakarta - Bank Indonesia (BI) mengakui Net Interest Margin (Pendapatan Bunga Bersih) rata-rata perbankan nasional belum efisien dan dinilai masih tinggi. Deputi Gubernur Senior BI, Darmin Nasution mengatakan NIM perbankan saat ini masih belum normal.

"NIM saat ini tidak efisien jika dibandingkan sebelum krisis tahun 1998. Sebelum krisis ditahun tersebut, NIM saat itu 350 basis poin atau sekitar 3,5%. Namun setelah krisis ada hal-hal yang membuat NIM meningkat, sekarang telah turun tapi belum banyak," ujar Darmin usai berbuka puasa di Gedung Bank Indonesia (BI), Jumat (30/08/2009) malam.

Darmin mengatakan saat ini, NIM perbankan masih tinggi yaitu di atas 500 basis poin atau 5%.

"Padahal jika kita melihat negara-negara tetangga, saat ini banyak negara yang memiliki NIM perbankannya telah mencapai 350 basis poin. Namun untuk Indonesia saat ini penurunan NIM menjadi 3,5 persen masih sangat sulit. Bisa turun dari 500 bps saat ini sudah cukup," papar Darmin.

Dikatakan Darmin, peningkatan NIM perbankan saat itu karena banyak sekali perbankan yang kolaps dan banyaknya kredit macet. Akibatnya risiko bertambah, dan mendorong bunga perbankan.

"Selain itu, bank-bank besar yang direkap, sebagian dari asetnya lebih besar dalam bentuk surat berharga, returnnya lebih banyak, hal ini yang kemudian mendorong bunga tinggi tidak efisien," ujar Darmin.

Ia mengatakan, untuk menurunkan NIM perbankan diantaranya dengan mendorong pendapatan di luar bunga (fee base income) perbankan. "Saat ini fee base income perbankan masih kecil, maka porsi peningkatan fee base income harus dilakukan agar tidak ada biaya membayar bunga," katanya.

Sebelumnya, Direktur Direktorat Penelitian dan Pengaturan Perbankan BI, Halim Alamsyah mengatakan pendapatan NIM industri perbankan di Indonesia pada bulan Agustus ini mengalami penurunan jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya.

"Angkanya dari 7% menjadi hanya 5,6% sampai 6%," katanya.

Halim menambahkan, penurunan NIM tersebut karena beberapa bank telah menurunkan bunga kreditnya. Tapi, menurut Halim, meskipun NIM turun, bunga kredit perbankan masih tetap tinggi. Sebab, biaya dana (cost of fund bank) juga masih tinggi.

Secara teori, Halim melanjutkan, bunga kredit bisa turun apabila NIM dan cost of fund bank bisa turun. Saat ini yang terjadi adalah baru NIM bank yang turun. Sedangkan cost of fund masih tinggi.

(dru/dro)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads