Perbankan Sulit Pangkas Pendapatan Bunga

Perbankan Sulit Pangkas Pendapatan Bunga

- detikFinance
Senin, 31 Agu 2009 13:40 WIB
Perbankan Sulit Pangkas Pendapatan Bunga
Jakarta - Perbankan mengaku masih kesulitan menurunkan pendapatan bunga (Net Interest Margin/NIM), meskipun menurut Bank Indonesia (BI) sudah terlalu tinggi. Memangkas pendapatan bunga secara cepat bisa mendorong terjadinya pemutusan hubungan kerja (PHK).

"Semua tergantung kepada bank-nya namun dalam keadaan seperti sekarang, apalagi bank-bank BUMN, sepertinya akan susah menurunkan NIM," ujar Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia, Sofyan Basir di kantornya, Jakarta, Senin (31/08/2009).

Menurut Sofyan, menekan level NIM bisa menimbulkan efek berantai bagi perbankan, terutama jika dilakukan dengan cenderung memaksa. Ia mencontohkan, bagi BRI hambatan menurunkan NIM karena perseroan memiliki jumlah tenaga kerja yang cukup besar.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Dari segi karyawan saja kita sangat over sangat menyerap tenaga kerja. Bila NIM BRI ditekan, maka bisa-bisa kita melakukan PHK besar-besaran," jelasnya.

Dikatakan oleh Sofyan, BRI saat ini mempunyai lebih dari 60.000 lebih karyawan. "Jika memang dipaksakan untuk menurunkan NIM, kita bisa mem-PHK banyak karyawan kita dan itu tidak ingin kita lakukan, kita akan mencari jalan selain itu," jelasnya.

Saat ini, lanjut Sofyan, NIM BRI berada di level 9,13%. Sebelumnya Deputi Senior Gubernur BI, Darmin Nasution mengatakan bahwa NIM perbankan saat ini berada di atas 500 bps atau sekitar 5%.

Menurut Darmin, angka ini sangat tidak efisien, apalagi kalau dibandingkan dengan posisi sebelum krisis ekonomi tahun 1998. BI sebagai regulator akan mengupayakan agar bisa menekan NIM di bawah 500 bps.

Darmin memberikan sebuah solusi bahwa untuk menekan NIM dapat dilakukan dengan mendorong pendapatan diluar bunga atau fee base income.

(dru/dro)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads