Hal ini disampaikan oleh Deputi Gubernur BI Darmin Nasution dalam rapat kerja dengan Komisi XI DPR di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Kamis (3/9/2009).
"Peningkatan tersebut disebabkan meningkatnya biaya untuk pengembangan pegawai, fasilitas kesehatan pegawai, serta meningkatnya anggaran imbalan kerja jangka panjang dan imbalan pasca kerja (berdasarkan perhitungan oleh aktuaris)," tuturnya.
Darmin juga menjelaskan rencana anggaran pengelolaan gaji, tunjangan dan penghasilan lainnya pada tahun 2010 dianggarkan sebesar Rp 1,9 triliun atau meningkat sebesar Rp 79,92 miliar atau 4,26 persen dibanding gaji pegawaui di 2009.
"Peningkatan tersebut, menurut hemat kami masih dalam kewajaran karena penghargaan terhadap kinerja, promosi pegawai dan rencana penerimaan pegawai baru," katanya.
Lebih lanjut Darmin mengatakan, untuk rencana anggaran pengelolaan logistik tahun 2010 adalah sebesar Rp 541,13 miliar atau meningkat sebesar Rp 36,41 miliar atau 7,21 %.
Di samping itu, ada rencana anggaran pelaksanaan kegiatan pendukung tahun 2010 dianggarkan sebesar Rp269,13 miliar, meningkat Rp24,05 miliar atau 9,81 %. Dan rencana anggaran pajak tahun 2010 sebesar Rp 546,39 miliar, meningkat sebesar Rp 24,33 miliar atau 4,66 %.
"Dan biaya tak terduga tahun 2010 dianggarkan sebesar Rp 242,36 miliar atau 5 % dari total pengeluaran anggaran operasional," tandasnya.
Selain itu, Darmin mengatakan, perubahan pos-pos anggaran BI salah satunya yang terbesar yakni dalam sistem pengawasan. "Atau early warning system, bagaimana kita membuat early warning system yang baik harus memakai aplikasi atau semacam dashboard," kata Darmin.
Aplikasi ini, sambungnya harus dapat memprediksi suatu pengawasan berdasarkan data transaksi harian. "Nantinya harus mampu memperkirakan apa yang akan terjadi jika dashboard nya hanya menangkap kinerjanya. Bukan jika sudah kolaps baru diketahui," tegasnya.
Nantinya sistem informasi tersebut, lanjut Darmin akan memang mampu memperkirakan apa yang akan terjadi pada setiap bank.
Keseluruhan anggaran tahunan Bank Indonesia (ATBI) tahun 2010 diperkirakan mengalami defisit sebesar Rp 12,3 triliun. Defisit ini salah satunya dikarenakan, adanya pengeluaran operasional Bank Indonesia pada tahun 2010.
Anggaran BI Juli 2009 Surplus Rp 11.659,45 miliar
Sampai dengan akhir Juli 2009, anggaran operasional BI masih mengalami surplus sebesar Rp 11.659,45 miliar atau 84,50 % dari total anggaran 2009.
Hal ini tercermin dari selisih antara realisasi penerimaan sebesar Rp 13,9 triliun atau 75,63 % dari target 2009 dan realisasi pengeluaran sebesar Rp 2,2 triliun atau 49,35 % dari alokasi 2009.
"Realisasi penerimaan ini relatif tinggi karena penerimaan dari pengelolaan devisa yang sudah mencapai 84,66 % dari yang direncanakan pada ATBI 2009," ujar Darmin.
Dikatakan Darmin realisasi pengeluaran ini masih sejalan dengan rencana. "Sedangkan untuk Anggaran Kebijakan, tidak dapat dihindari, pada periode yang sama mengalami defisit sebesar Rp 9,2 triliun atau 35,95 % dari ATBI tahun 2009," tutur Darmin.
Namun demikian, lanjut Darmin, secara keseluruhan ATBI pada akhir Juli 2009 masih mengalami surplus sebesar Rp 2,3 triliun.
(dnl/qom)











































