Ini Dia Isi Pertemuan BI dan Analis 'Garis Keras' Soal Century

Ini Dia Isi Pertemuan BI dan Analis 'Garis Keras' Soal Century

- detikFinance
Selasa, 08 Sep 2009 16:42 WIB
Ini Dia Isi Pertemuan BI dan Analis Garis Keras Soal Century
Jakarta - Bank Indonesia (BI) mengadakan pertemuan tertutup dengan para analis yang selama ini bersuara keras soal bailout Bank Century. Berikut isi pertemuan yang berlangsung di Hotel Niko, Jakarta, Senin (7/9/2009) malam itu.

Dalam pertemuan tersebut, BI diwakili oleh Deputi Gubernur BI Budi Rochadi, sementara analis yang datang antara lain Iman Sugema, Yanuar Rizky, Fauzi Ikhsan, Tony Prasetiantono.

"Meski tetap terjadi perbedaan pendapat soal Century bersifat sistemik atau tidak, namun beberapa hal yang mengemuka dalam diskusi," jelas Tony.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Poin-poin utama dari pertemuan itu adalah:

1. Situasi pertengahan November 2008 memang menyulitkan pemerintah untuk menutup Century. Soalnya, situasinya sedang amat under pressure, terutama setelah Lehman Brothers bangkrut 15 Sept 2008.

2. Meski krisis Century disebabkan oleh buruknya integritas pemilik dan bankirnya, namun hal ini sulit dipisah dari kondisi kiris global. Pengaruh krisis global sangat mencekam, sehingga jika Century ditutup akan berdampak menular. Lain ceritanya jika Century ditutup sebelum Lehman Brothers.

3. Jika penutupan dilakukan, kerugian bisa mencapai Rp 30 triliun, karena efek menular.

"Saya menggarisbawahi, bahwa tidak mungkin krisis Century dapat dilalui tanpa kerugian. Kerugian pasti terjadi. Jadi, jangan harap nanti jika Century dijual akan menghasilkan recovery rate 100%, atau bahkan untung," jelas Tony melalui pesan singkatnya.

"Ini adalah wishful thinking yang tidak realistis. Ibarat merawat orang sakit, mana mungkin untung? Pasti akan ada ongkos yang harus dikeluarkan. Yang bisa kita lakukan adalah mengupayakan recovery rate setinggi-tingginya," tambahnya.

Ia juga menambahkan, bailout yang dilakukan memang benar karena jika tidak, maka akan timbul kerugian Rp 30 triliun. Dalam pertemuan tersebut, ada sanggahan soal pemberian bailout mengingat pemerintah AS tidak memberikan bailout kepada Lehman Brothers. Namun ternyata belakangan pemerintah AS menyesal tidak dilakukan bailout karena efeknya jadi sangat luas.

"Bahkan belakangan AS harus mem-bailout sektor riil, termasuk General Motors. Tapi demi akuntabilitas dan menghindari moral hazard, audit terhadap bailout Rp 6,7 triliun harus dilakukan," tegasnya.

Untuk menghindari berulangnya modus antaboga, Tony mengaku dirinya menyarankan agar BI membentuk intelligence unit, untuk memata-matai (spionase) kegiatan bank yang tidak dilaporkan dalam laporan keuangan.

"Yang terjadi kemarin kan, BI tidak bisa mendeteksi produk Antaboga yang tidak dilaporkan dalam laporan resmi, sehingga waktu diaudit tidak ketahuan. BI harus proaktif melakukan spionase," tegasnya.

Ia menambahkan, kasus Century telah melebar sedemikian rupa melampaui batas-batas isu ekonomi, dan berkembang ke arah politik, karena 'timing' sekarang yang berdekatan dengan pelantikan Presiden dan Wapres serta pembentukan kabinet.

"Hal ini harus dihentikan karena jika berlanjut akan merusak prospek penjualan Century kepada investor baru kelak. Recovery rate bisa rendah," pungkas Tony. (dru/qom)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads