Massa menyerukan Sri Mulyani sebagai gembong nomor satu di tanah air yang dianggap telah menjerumuskan Indonesia ke dalam neoliberalisme untuk merampok kekayaan Indonesia.
Bersama Cawapres terpilih Boediono dan pejabat Bank Century diduga kongkalikong merampok duit rakyat Rp 6,7 triliun dengan alasan Bank Century.
Para pendemo melempari poster Sri Mulyani dengan telor busuk dan meneriaki Sri Mulyani untuk bertanggung jawab terhadap kasus Bank Century ini serta meminta Sri Mulyani untuk turun dari jabatan. Presiden diminta untuk tidak memilih Sri Mulyani kembali dalam jajaran menteri kabinet 2009-2014.
Sebelumnya pada hari Senin lalu(7/9/2009), Sri Mulyani juga didemo oleh mahasiswa tergabung dalam Jaringan Mahasiswa Anti Korupsi (JAM-AKSI) membawa beberapa tuntutan, diantaranya mendesak Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono (SBY) bersikap tegas, transparan dan konsisten dalam rangka menuntaskan skandal Bank Century dan mewujudkan pemerintahan yang bersih.
Selain itu, mereka mendukung dan mendesak Komite Pemberantasan Korupsi (KPK) mengusut tuntas skandal Bank Century, menuntut Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mundur dan bertanggung jawab atas keterlibatannya dalam skandal Bank Century dan mendesak KPK segera memeriksa Menkeu dan jajaran Bank Indonesia (BI) yang terlibat dalam skandal Century.
Tuntutan yang terakhir adalah mendesak Polri mendukung KPK dalam menuntaskan kasus Century.
Tuntutan tersebut didasari atas menggelembungnya suntikan dana talangan kepada Bank Century untuk menaikkan rasio kecukupan modal (CAR) sesuai aturan BI menjadi Rp 6,7 triliun.
Demo yang hanya berlangsung sekitar seperempat jam tersebut sempat diwarnai aksi membakar foto menkeu yang dicetak hitam putih di atas kertas A4.
Orator yang bernama Andri adalah mahasiswa asal Universitas Mercu Buana, di tengah terik matahari dia dan teman-temanya yang berjumlah tidak lebih dari 50 orang, tetap bersemangat menuntut mundurnya Menkeu.
Tampaknya pada akhir masa jabatannya ini, Sri Mulyani dibayangi-bayangi kasus yang dapat merusak citranya selama ini dan ia menyadari hal tersebut.
Pada kesempatan buka puasa bersama di Departemen Keuangan, Sri Mulyani sempat berujar bahwa dirinya merasa telah bekerja seakuntabel dan setransparan mungkin, tetapi masih banyak pihak yang menyatakan dirinya tidak amanah.
"Saya juga tidak tahu mengapa terjadi pada bulan puasa ini, mungkin ini ujian juga buat saya," ujar Sri Mulyani ketika berbincang-bincang dengan wartawan setalah berbuka puasa Senin lalu. (nia/dnl)