"Karena ditakutkan menjadi menjadi besar, seperti tahun 1998, maka kejadian kemarin seperti lembaga keuangan bank jika ditutup akan dapat kembali ke situasi 1997-1998 krisis dimana-mana," tuturnya ketika memberikan Kuliah Umum di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (FEUI), Depok, Jawa Barat, Senin (14/09/09).
Boediono menilai krisis keuangan global yang terjadi pada tahun 2008 lebih berat dampaknya jika dibandingkan dengan tahun 1997-1998.
"Jika dibandingkan dengan tahun 1997-1998, krisis global di tahun 2008 kemarin ini badainya lebih kuat," ujarnya.
Boediono menjelaskan jika pada tahun 1997-1998 krisis ekonomi dilandasi oleh sistem politik yang terjadi konflik sehingga mengakibatkan sistem finansial negara kita terkena dampaknya.
"Namun, jika dilihat krisis global kemarin terjadi capital outflow dimana-mana, kemudian likuiditas perekonomian yang semakin tergerus dan ditambah pasar interbank sudah lagi tidak mengandalkan rasa saling percaya," Papar Boediono.
Ia mengatakan, negara-negara yang terkena dampak krisis itu sebenarnya negara yang mempunyai optimisme untuk maju terlalu jauh tanpa memperhitungkan risiko.
"Kita tidak perlu terlalu mudah ingin maju tanpa memperhitungkan risiko di sektor keuangan, karena penyebab utama krisis global kemarin yakni negara-negara ingin lari cepat meninggalkan sektor riil dan mengandalkan pasar saham," paparnya.
Lebih lanjut Boediono mengatakan, banyak produk-produk abstrak muncul di sektor keuangan seperti produk-produk derivatif. Yang memang menurut Boediono, produk tersebut tidak dikaitkan dengan sektor riil.
"Sehingga menciptakan nilai tambah yang semu yang kemudian berkembang menjadi bubble," katanya.
Krisis yang terjadi kemarin sempat membuat negara kita sedikit terpengaruh karena kondisi internal yang terjadi. Boediono melanjutkan, dari situ muncul suatu 'api' yang dapat mudahnya menjadi besar.
(dru/dnl)











































