Subdebt Mandiri Dongkrak CAR 1,4%

Subdebt Mandiri Dongkrak CAR 1,4%

- detikFinance
Kamis, 17 Sep 2009 08:55 WIB
Subdebt Mandiri Dongkrak CAR 1,4%
Jakarta - Rencana penerbitan obligasi subordinasi (subdebt ) sebesar Rp 3 triliun oleh PT Bank Mandiri Tbk (Mandiri) pada tahun 2009 ini akan memperkuat Rasio Kecukupan Modal (CAR) sebesar 1,4 persen.

Obligasi pertama dalam bentuk rupiah ini memang sengaja diterbitkan perseroan untuk memperbaiki struktur pendanaan dan memperkuat permodalan.

Demikian dikatakan oleh Direktur Keuangan Mandiri, Pahala Mansyuri dalam acara Buka Puasa bersama Direksi Mandiri di Hotel Shangrila, Jakarta, Rabu malam (17/09/2009).

"Subdebt ini bisa menaikkan CAR 1 persen sampai 1,4 persen dengan nilai subdebt tersebut minimum Rp 3 triliun," ujar Pahala.

Sampai dengan semester I-2009, CAR Mandiri berada di posisi 14,02 persen. "Dengan obligasi tersebut maka CAR akan dijaga di atas 15 persen sampai akhir tahun 2009," katanya.

Pahala mengatakan, subdebt dengan tenor 5 tahun sampai 7 tahun ini lebih didasari untuk memperbaiki struktur pendanaan. "Dan mendukung pertumbuhan kredit bank Mandiri yang ditargetkan sebesar 15 persen sampai akhir tahun 2009," jelasnya.

Bank Mandiri mencatat pertumbuhan kredit pada semester I-2009 sebesar 21,4 persen (year on year ) atau sebesar Rp 32 triliun, yaitu dari Rp 149,6 triliun menjadi Rp 181,6 triliun per Juni 2009.

Pahala menambahkan subdebt tersebut memang dilakukan perseroan untuk merubah komposisi struktur dana yang lebih dominan di jangka pendek menjadi jangka panjang. "Karena saat ini 70 persen pendanaan kan jangka pendek dan 70 sampai 90 persen bahkan berada di bawah 3 bulan," tuturnya.

Bank Mandiri sudah menunjuk 4 underwritter untuk menangani rencana penerbitan obligasi tersebut yaitu PT Bahana Securities, PT Danareksa Sekuritas, PT Mandiri Sekuritas dan PT Trimegah Sekuritas.

Sampai dengan semester I-2009 kinerja Bank Mandiri terus menunjukan perbaikan. Dana murah Mandiri per Juni 2009 meningkat 7,6 persen atau sebesar Rp 11,5 triliun, yaitu dari sebesar Rp 151,2 triliun menjadi Rp 162,7 triliun.
(dru/dnl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads