Omset 'Penjual Uang' Turun Gara-gara Pecahan Rp 2.000

Omset 'Penjual Uang' Turun Gara-gara Pecahan Rp 2.000

- detikFinance
Jumat, 18 Sep 2009 18:52 WIB
Omset Penjual Uang Turun Gara-gara Pecahan Rp 2.000
Jakarta - Lebaran yang tinggal dua hari lagi dimanfaatkan sebagian masyarakat untuk mendulang rejeki, yang mereka lakukan adalah menjual jasa penukaran uang. Namun sayang, omset mereka tahun ini turun dibanding tahun lalu.

Hal ini disampaikan oleh sebagian penjual jasa penukaran uang yang detikFinance temui di terminal Kampung Rambutan, Jakarta Timur, Jumat (18/9/2009).

Salah satunya Robert. Pria paruh baya ini mengaku, usaha penukaran uang khususnya di terminal Kp. Rambutan, sepi peminat. Hal ini disebabkan karena terbitnya uang baru pecahan Rp 2.000 yang diminati masyarakat.

"Yang banyak ditanya orang-orang uang Rp 2.000 baru. Kita dapat harganya aja sudah mahal,jadi kita ga bisa jual lagi ke orang di bawah itu," tutur Robet.

Robert mengaku, jika masyarakat ingin menukarkan uang dengan pecahan uang miliknya, akan dikenai biaya 20%-30% lebih tinggi. Khusus untuk pecahan Rp 2.000, penukaran Rp 100 ribu, dipatok Robert Rp 120 ribu. Sedangkan untuk pecahan lain, seperti Rp 1.000, Rp 5.000, Rp 10.000, penukaran per Rp 100 ribu dihargai Rp 115 ribu.

Sebagian masyarakat yang ingin menukarkan uang urung terjadi mereka lakukan. Masyarakat menganggap harga dari penjual jasa sangat mahal. "Kalo Rp 100 ribu saja sudah Rp 120 ribu. Apalagi kalau Rp 200 ribu?," cerita Robert saat ada masyarakat yang mengeluh kepadanya.

Pecahan uang mereka dapatkan dari orang lain. Mereka menyebutnya Bos. "Saya dapat dari Bos. Bos yang ambil di Thamrin (Bank Indonesia/BI)," kata salah satu penjual jasa lainnya.

Para penjual jasa penukaran uang mengaku, hanya mengantongi keuntungan bersih Rp 5.000 untuk tiap kelipatan Rp 100 ribu yang mereka hasilkan.

"Kami ambil dari bos, Rp 100 ribu itu Rp 115 ribu. Kami cuma ambil untung sedikit. Sekarang kalo ada orang yang tawar Rp 105 ribu, kami ngga dapat, nombok malah," ujar wanita paruh baya yang tidak ingin dipublikasikan namanya.

Menurut Robert, penukaran uang di Kampung Rambutan lebih murah ketimbang di tempat lain. Pondok Indah misalkan, ada juga beberapa orang yang menyediakan jasa penukaran uang. Di daerah tersebut harga yang dipatok lebih mahal Rp 5 ribu-Rp 10 ribu.

"Ada yang jualan di Pondok Indah, yang arah Radio Dalam sana. Mereka jualnya lebih mahal karena lokasinya," tutur Robert.

Salah satu "Bos" yang detikFinance temui bercerita total penjual jasa penukaran uang yang ada di terminal ini mencapai 100 orang. Rata-rata mereka mengambil uang, antara Rp 2 juta-Rp 3 juta, dengan nominal pecahan yang beragam.

Sedangkan "Bos" menyediakan modal hingga Rp 50 juta. Dia mendapatkan pecahan uang dari calo yang ada di Bank Indonesia (BI).

"Saya ambil dari calo juga di Thamrin (BI). Calo itu yang ada main di dalam (BI). Yang jelas saya kasih Rp 50 juta, nanti mereka kasih lagi ke saya. Pecahannya macam-macam, Rp 1.000, Rp 2.000, Rp 5.00," tutur "Bos" yang juga enggan menyebutkan nama.

(dnl/dnl)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads