Kerugian bersih yang BII alami di 6 bulan pertama disebabkan tingginya biaya pencadangan kerugian kredit.
Melalui penerapan kebijakan provisioning kredit yang lebih konsenvatif, BII cetak kerugian sebesar Rp 896 miliar atau 52% di semester I-2009. Kebijakan ini diambil dengan mempertimbangkan kondisi ekomoni saat ini dan juga penilaian terhadap portofolio yang ada.
Kuartal I-2009 BII telah meningkatkan biaya pencadangan kerugian kredit guna perbaikan kinerja kredit anak perusahaannya, PT Wahana Ottomitra Multiartha (WOM).
Kenaikan pencadangan kerugian juga mengakibatkan rasio loan loss coverage BII berada di level 103,59%. Kenaikan pencadangan ini dinilai hanya one time event saja, dan tidak berkaitan langsung dengan kinerja keseluruhan BII.
"Kebijakan provisioning konservatif yang ditempuh manajemen BII adalah sejalan dengan kebijakan yang ditetapkan pemegang saham mayoritas kami, Maybank," kata Presiden Direktur BII Ridha Wirakusumah, melalui siaran pers yang diterima detikFinance , Sabtu (19/9/2009).
Ridha menambahkan, tim manajemen BII juga telah diperkuat dengan adanya Bankir-bankir yang berpengalaman. Mereka terbukti berhasil menyelesaikan upaya transformasi dan pembangunan kembali.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Optimisme serupa disampaikan Group CEO Maybank dan Komisaris BII Dato' Sri Abdul wahid Omar. Dia mengatakan, akan mendukung kebijakan yang diambil manajemen untuk memperbaiki dann memperkuat posisi keuangan BII, guna pertumbuhan pada masa yang akan datang.
"Komitmen Maybank terhadap BII dan ekonomi Indonesia adalah untuk jangka panjang dan tidak akan berubah," tambah Dato'.
BII sampai saat ini meraih pendapatan bunga bersih Rp 1,49 triliun atau meningkat 6%. Ini diakibatkan melebarnya spread bunga jika dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Untuk pendapatan operasional naik 37% menjadi Rp 806 miliar, yang berasal dari komisi dan fee di luar kredit, keuntungan transaksi valas, dan remitansi.
(dnl/dnl)











































