Ketua Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Anwar Nasution mengatakan, Menteri Keuangan Sri Mulyani dan Mantan Gubernur BI Boediono saat pemanggilan oleh BPK mengatakan perlunya perbaikan kualitas pemeriksaan bank oleh BI.
"Mereka (Sri Mulyani dan Boediono) sudah concern bahwa kualitas pemeriksaan bank kita harus diperbaiki. Mereka juga concern soal keterlambatan data. Menkeu terutama bilang apakah data yang diberikan akurat dan on time," kata Anwar saat ditemui di kantornya, Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Jumat (25/9/2009).
Anwar mengatakan, BPK juga menyelidiki bagaimana sebenarnya proses penanganan bank bermasalah yang dilakukan oleh BI. "Apakah LPS punya akses informasi atau dia tergantung sepenuhnya pada BI. Atau BI merupakan satu-satunya monopoli dalam hal sumber informasi. Kalau sumber informasi monopoli, bahaya. Ini yang kita cek," tuturnya.
BPK juga akan memeriksa apakah data-data yang dikeluarkan BI sebagai pengawas perbankan akurat. "Itu yang kita cek sebagai bagian dari tugas auditor," tegasnya.
Ditegaskan Anwar, Bank Century sejak lahir sudah bermasalah, bahkan dikatakannya sudah cacat sejak lahir yaitu sejak 2004.
"Tapi kenapa dia bisa terus melanggar aturan. "Kenapa ada uang yang ditilep US$18 juta. Apakah betul bank ini amblas karena krisis gobal apa kelakuannya sendiri, jangan dicampuradukan," tandasnya.
Dilanjutkan Anwar dirinya tak habis pikir untuk menangani bank kecil seperti Century diperlukan dana yang sangat besar yaitu Rp 6,7 triliun.
"Apa yang terjadi pada bank ini sebetulnya. Apa ada prosedur dalam penanganan bank bermasalah ini. Sekarang kan baru bank kecil tapi sudah negeluarin ongkos begtu besar. Bagaimana kalau nanti bank besar. Kita ke G20 mau reformasi global, tapi Century saja belum beres, malulah kita," paparnya.
(dnl/dnl)











































