"BI Rate akan stagnan berada di posisi 6,5 persen, tidak mungkin diturunkan dan kecenderungan dinaikkan juga sangat berat bagi Bank Indonesia," ujar Ekonom Standard Chartered, Fauzi Ikhsan ketika ditemui di Gedung Bank Indonesia, Jakarta, Senin (28/09/2009).
Ia mengatakan, walaupun jika dilihat keadaan saat ini dengan inflasi yang cenderung akan ada kenaikan namun BI Rate juga dipengaruhi oleh penguatan rupiah yang terus bergerak ke arah positif.
"Sehingga inflasi dari sektor impor yang turun akan diimbangi oleh faktor eksternal seperti penguatan rupiah serta suku bunga global yang cenderung tetap seperti The Fed," jelasnya.
Maka, Fauzi mengatakan, faktor-faktor tersebut akan membuat BI tetap akan menjaga BI Rate di posisi 6,5 persen.
"Namun, BI Rate baru akan bergerak pada triwulan I-2010 dimana nanti akan dipengaruhi oleh harga kenaikan BBM jika dilakukan pemerintah," tuturnya.
Sementara itu, di tempat yang sama Wakil Direktur Utama, Bank Central Asia (BCA), Jahja Setiaadmadja mengatakan saat ini yang diharapkan perbankan memang BI Rate tetap berada di posisi 6,5 persen. "Untuk penyesuaian sebaiknya memang BI Rate tetap dulu," ujar Jahja.
Ia menegaskan,Β karena jika dilihat kecenderungan inflasi yang terjadi setelah lebaran ini maka BI Rate akan berpeluang stagnan di bulan ini.
(dru/dnl)











































