"Tanpa di-inject dana oleh pemegang saham, dana nasabah sulit kembali. Mau bayar, tapi uangnya darimana?" kata Pengamat Asuransi Angger Yuwono ketika dihubungi detikFinance, Jakarta (28/9/2009).
Manajemen Bakrie Life baru-baru ini menjanjikan adanya suntikan dana dari pemegang sahamnya. PT Bakrie and Brother Tbk (BNBR) sebelumnya menjanjikan suntikan dana sebesar Rp 500 miliar untuk mengembalikan dana nasabah yang jatuh tempo.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun seorang nasabah Bakrie Life mengatakan, suntikan dana tersebut merupakan janji-janji yang sudah basi. Mereka bahkan dijanjikan akan dibayar dengan saham BNBR.
Angger menjelaskan, perusahaan milik Grup Bakrie tersebut sudah mengalami default sejak tahun 2008 lalu. Ia menilai, pemegang saham harus segera menyuntikan dana kepada Bakrie Life agar masalah gagal bayar tersebut tidak berlarut-larut.
"Kalau tidak segera di-inject maka kerugian yang diderita akan semakin berlipat ganda," ujarnya.
Jika dibiarkan lebih lama lagi, perusahaan tersebut akan semakin menderita kerugian yang lebih besar, sehingga pada akhirnya kewajibannya kepada nasabah pun akan semakin menggembung.
"Pemegang saham harus memberikan komitmen yang pasti untuk menyuntikan dana," imbuhnya.
Diamond Investa yang ditawarkan oleh Bakrie Life merupakan gabungan antara investasi dan asuransi jiwa dengan lebih fokus pada pemberian return investment yang maksimum dan pasti (fixed rate). Diamond Investa ini berbeda dengan produk unit link ataupun reksadana yang memberikan opportunity return yang menjanjikan namun tidak digaransi.
Dalam ilustrasinya, dengan investasi awal Rp 50 juta, investor akan mendapatkan nominal akhirnya menjadi Rp 51.232.877 dalam kurun 3 bulan, Rp 52.541,438 dalam 6 bulan dan Rp 55.250.000 dalam 12 bulan. Tingkat imbal hasil atau rate dari investasi awal semakin meningkat jika investasi awal semakin besar.
Dalam keterangannya disebutkan, bunga investasi Diamond Investa mengacu pada rata-rata bunga deposito couonter netto Bank Mandiri, BNI dan Bank Permata ditambah bonus sebesar 1,5% per tahun. Bakrie Life dikabarkan mengalami gagal bayar untuk produk ini hingga Rp 400 miliar. Prosedur pengembalian dana kepada nasabah hingga kini belum mencapai kesepakatan.
(ang/qom)











































