Tahan BI Rate, BI Proyeksikan Ekonomi RI Tumbuh Lebih Tinggi

Tahan BI Rate, BI Proyeksikan Ekonomi RI Tumbuh Lebih Tinggi

- detikFinance
Senin, 05 Okt 2009 13:58 WIB
Tahan BI Rate, BI Proyeksikan Ekonomi RI Tumbuh Lebih Tinggi
Jakarta - Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk mempertahankan BI Rate pada level 6,5%. BI juga memperkirakan perekonomian Indonesia bisa tumbuh lebih tinggi dari perkiraan semula.

Hal tersebut disampaikan Deputi Gubernur BI Budi Mulya alam konferensi pers hasil Rapat Dewan Guvernyr BI di Gedung BI, Senin (5/10/2009). RDG kali ini juga digelar secara conference call dengan Pjs Gubernur BI Darmin Nasution yang sedang berada di Istambul, Turki.

"Pertumbuhan ekonomi 2009 diperkirakan akan mencapai 4,0%-4,5% lebih tinggi dari perkiraan semula 3,5%-4,0%. Sementara itu pertumbuhan ekonomi 2010 diperkirakan mencapai 5,0%-5,5% sejalan dengan akselerasi pertumbuhan ekspor seiring dengan prakiraan pulihnya perekonomian global dan masih kuatnya konsumsi swasta, serta mulai membaiknya investasi," jelasnya. 

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Namun BI mengingatkan, beberapa faktor risiko perlu dicermati antara lain bersumber pada masih adanya ketidakpastian proses pemulihan perekonomian global, masih tingginya tingkat pengangguran di negara maju dan masih terdapatnya kecenderungan proteksionisme di beberapa negara pasca krisis global.  Disamping itu, risiko meningkatnya harga minyak dunia perlu terus dicermati.

Untuk perekonomian domestik pada Triwulan III-2009, BI memperkirakan akan tumbuh sebesar 4,2%, lebih baik dari proyeksi sebelumnya sebesar 3,9%. 

"Membaiknya proses pemulihan ekonomi global dan menguatnya keyakinan konsumsi masyarakat mendorong peningkatan ekspor dan konsumsi swasta lebih tinggi dari yang diperkirakan semula," jelasnya. 

Ia menambahkan, membaiknya pertumbuhan ekonomi ini juga sejalan dengan asesmen BI terhadap perekonomian daerah. Wilayah-wilayah penghasil komoditi ekspor CPO, karet, nikel, dan batubara, seperti Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan Papua mengalami pertumbuhan ekonomi yang relatif tinggi.  Sementara itu, kegiatan investasi di beberapa wilayah tercatat mulai membaik.

Budi menjelaskan, keputusan BI mempertahankan BI Rate 6,5% itu sejalan dengan pencapaian sasaran inflasi pada tahun 2010 sebesar 5% ±1%.

"Stance kebijakan saat ini juga dipandang masih kondusif bagi proses pemulihan perekonomian dan intermediasi perbankan," tambahnya.

Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia juga memandang bahwa stabilitas ekonomi dan moneter tetap terjaga sebagaimana tercermin pada nilai tukar yang stabil dan inflasi yang rendah.  Inflasi pada tahun 2009 diperkirakan mencapai kisaran sasaran 4,5±1%.  Ke depan, inflasi 2010 diperkirakan akan kembali ke pola normalnya dalam kisaran 5±1% seiring dengan kembali menguatnya aktifitas perekonomian domestik dan harga-harga komoditas.

Di sektor keuangan, stabilitas sistem keuangan tetap terjaga didukung oleh kinerja perbankan yang membaik. Intermediasi perbankan mulai meningkat terutama sejak Agustus 2009. Di sisi mikro, industri perbankan dalam kondisi stabil seperti tercermin dari masih tingginya tingkat kecukupan modal CAR sebesar 17.0% dan terjaganya NPL dibawah 5%.

Suku bunga kredit masih terus mengalami penurunan secara bertahap. Likuiditas perbankan juga secara agregat masih mencukupi untuk kegiatan perbankan dalam pembiayaan perekonomian. Kebijakan Bank Indonesia untuk memberlakukan GWM sekunder sebesar 2,5% sejak 24 Oktober 2009 (setelah masa transisi 1 tahun) diharapkan akan memperkuat pengelolaan likuiditas perbankan.
(qom/dro)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads