"Cadangan devisa per akhir September 2009 sebesar US$ 62,29 miliar, itu sudah termasuk alokasi dana tambahan dari IMF sebesar US$ 2,7 miliar," ujar Deputi Gubernur BI, Budi Mulya dalam jumpa pers di gedung BI, Jakarta, Senin (5/10/2009).
Menurut Budi, dengan nilai cadangan devisa sebesar itu cukup untuk menutupi utang jangka pendek RI hingga akhir tahun.
Saat ini, lanjut Budi, pertimbangan utama BI adalah menjaga nilai tukar rupiah tetap stabil dan sejalan dengan faktor fundamentalnya.
"BI akan mencermati apa-apa saja yang mempengaruhi nilai tukar rupiah, yaitu harga minyak ke depan yang rata-rata tahun ini diperkirakan sebesar US$ 70 per barel," ujarnya.
Mengenai posisi neraca berjalan, Budi mengatakan saat ini dalam posisi surplus. Sayangnya ia tidak menyebutkan kelebihan nilai tersebut.
"Dalam triwulan I dan II ada koreksi di ekspor, tetapi tidak sebesar impor. Surplus ini akan berlanjut di 2010. Itu yang membuat rupiah mempunyai nilai fundamental yang harusnya menguat dari periode sebelumnya. Kita meyakini rupiah menguat masih sejalan dengan inflasinya. Tahun 2010 inflasi 5% plus minus 1%," ujarnya.
Posisi cadangan devisa RI sepanjang tahun 2008:
- Akhir Desember 2007: US$ 56,920 Miliar
- Akhir Januari : US$ 55,999 Miliar
- Akhir Februari :US$ 67,125 Miliar
- Akhir Maret : US$ 58,987 Miliar
- Akhir April: US$ 58,770 Miliar
- Akhir Mei: US$ 57,464 Miliar
- Akhir Juni: US$ 59,453 Miliar
- Akhir Juli : US$ 60,563 Miliar
- Akhir Agustus: US$ 58,358 Miliar
- Akhir September: US$ 57,108 Miliar.
- Akhir Oktober: US$ 50,580 Miliar.
- Akhir November US$ 50,181 Miliar.
Sementara cadangan devisa Indonesia sepanjang 2009:
- 30 Januari 2009 : US$ 50,869 miliar
- 27 Februari 2009 : US$ 50,564 miliar
- 31 Maret 2009 : US$ 54,840 miliar
- 30 April 2009 : US$ 56,565 miliar
- 29 Mei 2009 : US$ 57,934 miliar
- 30 Juni 2009 : US$ 57,6 miliar.
- 31 Juli 2009: US$ 57,418 miliar
- 31 Agustus 2009: US$ 57,943 miliar.











































